Mempertanyakan Tes Medis ISMC dan Kredibilitas Dokter Tim

Mempertanyakan Tes Medis ISMC dan Kredibilitas Dokter Tim

Jumat, 23 Juni 2017 | 23:05 WIB

SEBELUMNYA kita membahas bagaimana pemain yang dicap sebagai injury prone player, atau pemain yang rentan cedera bisa dikontrak tim sepakbola? keputusan akhirnya ada dimanajemen.

Selanjutnya, dokter tim (mungkin) akan menganalisa hasil observasi dari Medical Center yang akan menjadi pertimbangan pelatih untuk memberikan keputusan kepada manajemen (di Indonesia). Lain hal di luar, yang benar-benar proffesional, biasanya setiap klub sepakbola mempunyai fasilitas Medical Check Up sendiri, melakukan observasi sendiri dan dianalisa langsung oleh dokter tim dan hasilnya akan langsung diberikan kepada manajer (baca: Pelatih).


Hasil Tes Medis Sergio dan Cole

Lantas bagaimanadengan kedua Target Man Persib yang diklaim tidak ada masalah soal Injury Proneness-nya ketika di awal musim? Hasil observasi dari salah satu Medical Center yang dipercaya Persib untuk melakukan tes medis para pemainnya yaitu Indonesia Sport Medicine Center (ISMC), melalui CEO-nya, Dr Andi Kurniawan memberikan garansi jika Sergio Van Dijk tidak perlu masuk Ruang Operasi (RO) untuk bisa bermain kembali, Si Botak hanya cukup melakukan recovery paling lama 6 minggu, bahkan dia mengatakan cedera yang dialami Sergio bukanlan hal yang parah, melainkan masuk dalam kategori cedera ringan.

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170315133056-142-200279/sergio-van-dijk-tak-perlu-operasi-lutut/

Garansi yang diberikan ISMC selama 6 minggu itu tak terbukti, bahkan pemulihan cedera striker blasteran Indo-Belanda ini mengalami kemunduran di akhir April 2017, jelang habis masa berlaku garansi ISMC, memang soal recovery cedera bisa saja berbeda-beda pada setiap pemain, tergantung dari keinginan kuat, parahnya cedera, program pemulihan, doa orang tua dan doa isti untuk suaminya yang mencari nafkah hehehe. 


Sumber: http://www.juara.net/read/sepak-bola/indonesia/175762-sergio.van.dijk.alami.kemunduran.dalam.pemulihan.cedera

Bahkan sang striker pernah berbicara kepada media jika dirinya masih mengalami trauma di bagian bekas cedera lutut meniscusnya. Sergio masih belum bisa bermain ketika kick-off Go-Jek Liga 1 Indonesia, awal Mei 2017.

Sumber: http://www.bola.com/indonesia/read/2948990/curahan-hati-sergio-van-dijk-yang-tak-sabar-membela-persib

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga, Sergio memberanikan diri untuk tampil pertama kali di Liga 1 Indonesia. Jika dihitung lama durasi recovery cedera Sergio Van Dijk,Februari hingga Mei, terhitung 84 hari. Sesuai perkiraan ISMC, 6 minggu, lewat 2 bulan 24 hari. Top skorer Persib musim 2013 ini diturunkan sebagai starter ketika Persib ditahan imbang Pusamania Borneo FC 2-2, (14/5), yang bermain selama 59 menit sebelum akhirnya diganti.

"Belum, belum sesuai harapan karena kondisinya memang belum fit 100 persen, masih aya yang dirasakan. Namun saya mempunyai harapan kepadanya, walaupun kecil namun ada kontribusinya tadi," ungkap Djajang Nurjaman setelah pertandingan malam itu.

Menggaris bawahi soal kondisi Sergio yang belum benar-benar pulih, pelatih Persib, Djanur biasa ia dipanggil, terlalu riskan menurunkan pemainnya untuk bermain, dalam keadaan penuh tekanan karena deadlock di final 3rd dan inkonsistensi Maung Bandung yang turun naik baik hasil maupun dari permainannya, akhirnya sang Allenatore (mungkin) memaksakan pemain bernomor punggung 9 ini tampil, dari pada Cole, menurut penilaiannya.

Kembali diturunkan selama 58 menit pada pertandingan selanjutnya melawan Bali United, dan tampil tak sesuai yang diharapkan, duduk di bench selama 90 menit ketika melawan Bhayangkara FC, jelang melawan Persiba Balikpapan di kandang, lutunya kembali terasa dan membuat Sergio tak masuk line up di pertandingan malam itu, hingga perjudian untuk kembali menurunkan Si Botak di pertandingan terakhir sebelum libur Idul Fitri melawan Barito Putera.

Padahal sehari jelang laga di Stadion 17 Mei, Banjarmasin, di akhir sesi official training, Sergio kembali merasakan nyeri di lututnya, bahkan harus dibalut, bukankan ini terlalumemaksakan? Hasilnya, hanya 13 menit ia bermain malam itu sebelum digantikan Carlton Cole. Keesokan harinya Djanur membeberkan ke media jika Sergio akan balik ke Belanda untuk penyembuhan cedera lutut meniscus-nya.

Sumber: http://vikingpersib.co.id/berita/1985/sergio-menyerah-djanur-siapkan-pengganti

Cedera lutut meniscus,siapa pemain Persib yang pernah mengalaminya? Masih ingat fullback yang melejit setelah Piala AFF 2010, M Nasuha, pemain asal Serang ini mengalami mimpi buruk di bagian lututnya, hingga akhirnya Persib tak memperpanjang kontraknya karena berbelit dengan cedera yang dideritanya.

Lalu, apa cedera lututmeniscus itu? Adalah robek di bantalan sendi pada lutut disertai pecahnya tulang rawan pada lutut. mengutip dari mantan fisioterapis Persib asal Sleman,Sigit Pramudya, "Pernyataan sembuh dari cedera olahraga, khususnya cedera lutut, bukan berdasarkan hilangnya rasa nyeri saja, melainkan perlu dilakukantes stabilisasi pada sendi dalam hal ini sendi lutut," dalam tulisannya di Pandifootball. Karena ini adalah soal spesialisasi keterampilan, dan diluar kemampuan kita yang awam, lebih baik kita membaca apa itu cedera lutut meniscus dan efeknya kepada pemain bola lewat tulisan Sigit Pramudya dibawah ini.

Sumber: http://panditfootball.com/sains-bola/195919/membahas-lebih-jauh-cedera-yang-meredupkan-karier-muhammad-nasuha/

Bisa dibilang cedera lutut meniscus adalah hantu bagi pesepakbola di dunia. Theo Wallcot, Falcao,Michael Essien pun pernah mengalami cedera ini dan bahkan yang terbaru adalah Zlatan Ibrahimovic yang mengalami hal serupa dan akan melakukan pemulihan di Amerika Serikat, ini menjadi alasan kenapa Manchester United tak memperpanjang kontrak bomber Swedia tersebut.

Namun ada pula pemain yang mengalami cedera lutut meniscus yang tetap bersinar setelah melakukan pemulihan yang cukup lama, seperti Allesandro Del Pierro, Ruud Van Nistelrooy, Alan Shearer dan lainnya.

Sumber: https://www.bola.net/editorial/pemain-yang-tetap-garang-setelah-menderita-cedera-acl-1.html

Lalu bagaimana dengan Carlton Cole yang ketika pertama datang ke Bandung sesumbar ingin mencetak 20 gol di Liga 1 Indonesia? dalam bahasan sebelumnya sudah kita telaah bagaimana riwayat cedera yang diderita mantan striker timnas Inggris ini, bagaimana bisa ISMC mengklaim Cole tidak bermasalah dengan kondisi kebugarannya, yang terjadi di lapangan adalah kondisinya tak memungkinkan untuk bermain 90 menit.


Untuk berlari puncukup kesulitan dan jika melihat pada pertandingan terakhir melawan BaritoPutera, bagaimana striker jangkung ini beberapa kali kalah duel oleh Aaron Evans, padahal jika dilihat postur tubuh, Cole yang berperawakan 191 cm bisakalah duel udara dengan Evans yang 11 cm dibawahnya, perlu diketahui juga, pemain berpaspor Australia ini bukanlah seorang born centerback, dia adalah seorang gelandang bertahan yang diplot Jacksen F Thiago sebagai bek tengah.

Kondisi Cole datang ke Bandung disambut dengan keraguan, bagaimana mungkin striker dengan riwayat injury pronenessnya dan hanya bermain 7 kali di dua musim terakhir bisa di claimbugar 100 persen? Siapapun tahu di masa jayanya, Cole adalah salah satu kekuatan Westham United di lini depan, selama 11 musim ia jalanin dengan sumbangsih 55 gol untuk klub London Timur ini. 67 gol ia koleksi selama bermaindi Liga Inggris.

Cole menjalani serangkaian tes medis di ISMC, sama seperti Sergio, Dr Andi Kurniawan memberikan statement yang sama, bahkan mungkin sedikit menyembunyikan fakta tentang Cole yang mempunyai riwayat cedera yang sangat panjang dan sempat mengambil keputusan untuk gantung sepatu. "Dari riwayat cederanya, Cole relatif tidak mengkhawatirkan sebab dia hanya bermasalah dengan hamstring dan cedera lutut," ujar CEO ISMC pada saat itu.

Sumber: http://bola.republika.co.id/berita/sepakbola/liga-indonesia/17/03/30/onm2nt348-kondisi-carlton-cole-bagus

Bagaimana mungkinpemain yang diclaim Dr Andi Kurniawan kondisinya cukup bagus sampai saat ini masih berjuang dengan masalah kebugarannya, keinginan Cole memanglah kuat untuk kembali prima, melalui akun Instagramnya sang striker selalu mengunggah foto dan kata-kata penyemangat, namun fakta yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan assasment Dr. Andi Kurniawan. Cole belum siap untuk tampil diatas 60menit, itu yang terjadi.

Sumber: http://vikingpersib.co.id/berita/1984/djanur-masih-soroti-tititk-lemah-maung-bandung 

Sempat terdengar 'obrolan warung kopi' di antara staff pelatih dan manajemen setelah Cole mulai berlatih dengan Persib dan menjalani debut di pertandingan persahabatan melawan Persika Karawang dua bulan silam, "Meuli striker teh nu kiyeu, palaur potong kitu sukuna. Kade bisa maen teu," entah kata-kata itu ditujukan kepada siapa.

Jadi sekarang,dapatkah kita bertanya tentang validitas hasil tes medis yang dilakukan ISMC? Hanya Tuhan yang tahu.


Peran Dokter Tim

Alkisah, April 2015Hans-Wilhem Muller-Wohfart, melayangkan suat resignation kepada manajemen FC Bayern, Hans-Wilhem merupakan dokter tim yang bekerja untuk The Bavarians sejaktahun 1977. Lantas apa yang menyebabkan Hans-Wilhem mundur dari posisi doktertim? adalah Pep Guardiola yang kesal karena sang dokter dianggap tak bertanggung jawab menjalankan fungsinya dalam menjaga kebugaran pemain. 

9 Apri 2015, FC Bayern bertandang ke Bay Arena, markas Bayer Leverkusen. Menit ke-34, Mehdi Benatiaharus ditandu keluar lapangan dan tak dapat melanjutkan pertandingan, spontan Pep memberikan tepuk tangan sarkas kepada Hans-Wilhem, puncaknya ketika FC Bayern harus bertandang ke Porto di Liga Champions, hanya ada 14 pemain yang benar-benar bugar pada saat itu. Dalam kasus tadi, peran dokter tim sangatlah penting, karena jika FC Bayern tidak mendapatkan apapun di musim itu karena fitness pemain, siapa lagi yang akan disalahkan selain tim medis.


Lain hanya dengan Manchester City ketika gagal merebut gelar Liga Inggris 2013, Ada banyak sudut pandang yang bisa dilihat untuk menganalisis mengapa hal ini terjadi. Misalnya, Manchester United yang terlalu superior atau ketidak becusan Roberto Mancini menyusun strategi. Namun, jika boleh saya menunjuk satu nama, Phillip Baty lah yang menjadi akar permasalahannya.

Dr. Philip Battyadalah dokter lulusan University of Liverpool, Inggris. Karier Phil Batty didunia kedokteran sepak bola dimulai pada tahun 1999 ketika ia dipercaya menjabat sebagai Head of Sport Medicine and Sport Science di Blackburn Rovers.Pada tahun 2007, Phil Batty naik daun dengan menjabat Chairman of the Premier League Doctors.

Ketika Manchester Citysedang menjalani tur pramusim di Los Angeles, dr Phil Batty dipercaya untuk menangani semua aspek medis di klub yang dimiliki oleh Sheikh Mansour ini.Cerita pun dimulai. Lewat data dari situs PhysioRoom, diketahui bahwa Manchester City adalah klub dengan jumlah waktu kehilangan pemain akibat cedera paling sedikit di Liga Primer musim 2011/2012, yaitu hanya 186 hari.

Tidak berhenti sampaidi sana, menurut situs yang sama, insidensi cedera Manchester City hanya ada tujuh sepanjang musim itu. Bandingkan dengan Manchester United yang jumlah waktu kehilangan pemain akibat cederanya 1681 hari dan insidensi cederanya berada pada angka 39 . Dari data ini dapat disimpulkan, aspek medis Manchester City yang dikelola dr. Philip Batty sangat baik dan merupakan nomor wahid di EPL waktu itu.

Apakah jumlah cedera pemain memengaruhi hasil akhir tim di suatu kompetisi? Pada Agustus 2013,Martin Hagglund mempublikasikan penelitian berjudul Injuries AffectTeam Performance Negatively in Professional Football. Penelitian inibertujuan mencari tahu pengaruh cedera terhadap penampilan tim secarakeseluruhan dengan mengambil sampel dari 24 klub yang berkompetisi di LigaChampion dan diikuti selama 11 musim (2001-2012).

Parameter penampilan tim diukur dengan tiga kategori, yaitu UEFA Season Club Coefficient (UEFA SCC), posisi akhir di liga domestik, dan jumlah poin semua pertandingan resmi yang dilakukan. Hasilnya, diketahui bahwa terdapat korelasi signifikan antara insidensi cedera yang rendah dengan prestasi akhir musim tim, baik di liga domestik maupun di turnamen Eropa.

Cerita romantis Manchester City dan Phillip Batty berakhir musim berikutnya. Roberto Mancini,sebagaimana kita ketahui, adalah seorang yang arogan dan tidak penyabar.Karakter keras Mancini ini ditengarai menjadi pemicu mundurnya Phillip Batty. Dalam satu sesi latihan pada bulan Maret, Sergio Aguero mengalami cedera pada engkelnya, kemudian salah satu fisioterapis tim menyemprotkan spray pada kaki Kun Aguero. Alih-alih sembuh, kakinya malah melepuh dan terpaksa absen pada dua pertandingan melawan Stoke City dan Sunderland.

Akibat hal ini,Mancini gusar dan berkata “stupid” kepada Phil Batty, walaupun ia ketika itu tidak terlibat langsung dalam menangani cedera Kun Aguero. Philtersinggung dan pada akhir musim memilih untuk mengundurkan diri dengan mutualagreement. Belakangan, diketahui tak hanya Phil Batty yang jadi korban arogansi Mancini. Stephen Aziz, mantan kitman Manchester City bahkan juga menyebutkan Mancini sebagai “arrogant, vain and self-centered”.


Bagaimana Manchester City tanpa Phil Batty?

Kembali dikutip dari Physioroom, pada musim 2012/2013, Manchester Citymengalami peningkatan luar biasa dalam hal jumlah waktu kehilangan pemainakibat cedera yang mencapai 954 hari atau naik lebih dari500 persen dari musim sebelumnya! Begitupun dengan insidensi cedera pemain yang berada di angka 27, naik tiga kali lipat. Hasilnya,pada akhir musim Manchester City harus puas menjadi runner–up Liga Primer dan bahkan mengakhiri kompetisi dengan tidak lolos dari fase grup Liga Champion.

Dari perbandingan dua musim yang dijalani Manchester City dengandan tanpa dr. Phillip Batty tadi terlihat bagaimana staf pendukung yang baik,dalam hal ini dokter tim, dapat memengaruhi prestasi tim secara signifikan.

Melalui pemaparan tadi, dapat kita tarik dua kesimpulan. Pertama, bahwa tidak hanya pemain hebat dan pelatih brilian yang harus dijaga oleh klub. Staf-staf pendukung lainnya semisal dokter tim, yang tanpaingar-bingar juga berkontribusi luar biasa bagi prestasi klub harus disayangi, tidak boleh disepelekan dan diabaikan. Kedua, posisi dokter tim tak bisa hanya diserahkan kepada sembarang dokter. Posisi itu harus diberikan kepada dokter yang memang mengambil kedokteran olahraga sebagai spesialisasinya.


REVA KINARA / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 21 September 2017 | 10:50 WIB

    Fluktuasi Pemain dan Ball Possesion Ala Emral Abus

  • Minggu, 10 September 2017 | 19:39 WIB

    Momok Persib Dari Wamena, Kikuknya Post Bek Gawir Kiri

  • Selasa, 29 Agustus 2017 | 03:51 WIB

    Catatan Rekor Atep di Mandala Tahun Ini

  • Sabtu, 22 Juli 2017 | 15:08 WIB

    Lini Belakang Persib Dituntut Lebih Rapat dan Sigap

  • Kamis, 20 Juli 2017 | 21:16 WIB

    Analisis Jose: Persija Punya Leader di Semua Lini


Iklan Footer