Badai Cedera, Validitas Tes Medis dan Peran Dokter Tim (Bagian I)

Badai Cedera, Validitas Tes Medis dan Peran Dokter Tim (Bagian I)

Rabu, 21 Juni 2017 | 02:12 WIB
SERGIO Van Dijk harus ditandu keluar lapangan pada menit ke-12 ketika Persib kalah dari tuan rumah Barito Putera di pekan ke-11 Liga Indonesia, Minggu (18/6) di Stadion 17 Mei, Banjarmasin. 

Bukan hanya striker blasteran Indo-Belanda saja yang merasakan sakit di kakinya dalam pertandingan itu, Carlton Cole, si Marquee Player pun di menit-menit akhir pertandingan bahkan harus menjalani treatment dari fisio Persib, dua kali eks Westham United ini merasakan kesakitan di bagian paha kirinya.

Pelatih Persib, Djajang Nurjaman sekembalinya dari lawatan ke Banjarmasin menjelaskan jika Sergio bakal pulang kampung dan sudah mengangkat bendera putih, "Sergio menyerah, dia mau mencari pengobatan terbaik di Belanda," terang Djanur, sapaan sang pelatih, di Bandara Husein Sastranegara, Senin (19/6). 

Layaknya Sergio, Djanur pun selalu memarkir bomber jangkung asal Inggris, Carlton Cole dengan dalih kebugaran fisiknya yang tak kunjung membaik, mungkin karena pelatih asal Majalengka ini cukup tahu riwayat cedera pemain bernomor punggung 12 ini sebelum datang ke Indonesia.

Riwayat Cedera Sergio dan Cole, Kenapa Bisa Lolos Tes Medis?

Ini yang menarik, jika kita merunut ke Injury History kedua Target Man Persib, bukan barang baru bagi Sergio mengalami nyeri di lututnya. Bukan tanpa alasan juga Adelaide United memilih untuk melepas Sergio dengan gratis, padahal kontribusi Sergio untuk The Reds sangat vital, selain menjadi goal getter, juga sebagai tembok di jantung pertahanan lawan, 28 gol ia kemas selama membela The Reds dua musim. 

Akhirnya tahun 2013 sang journeyman ini berlabuh di Indonesia, Persib tepatnya, untuk mendapatkan satu tempat di Timnas, karena keinginannya yang besar untuk membela Merah Putih. Di tahun pertamanya Sergio berkontribusi sangat besar bagi Maung Bandung, 21 gol ia sumbang untuk Persib sebelum 'kabur' ke Sepahan, salah satu tim di Iran Super League karena tidak ada kejelasan kontrak di Bandung. 2011 Sergio mengalami cedera di bagian betisnya dan sempat absen dibeberapa pertandingan Adelaide United,


Tahun 2015, Si Botak ini kembali free agent, setelah semusim membela klub Thailand, Suphanburi. Masalah lututnya yang sering dirasakan Sergio menjadi alasan klub ini melepasnya.


Kembali mencoba peruntungan, homecoming ke Adelaide United, awal 2016 menjadi mimpi buruk bagi Sergio karena The Reds pun enggan menampungnya, Sergio kembali ke kampung halamannya di Belanda untuk melakukan therapy dan ikut latihan di mantan klubnya, FC Emmen. "Saya untuk menjaga kebugaran disini, sampai saya menunggu untuk bermain di klub baru," aku Sergio kala itu.


Akhirnya, Mei 2016, Sergio Van Dijk kembali ke Bandung untuk memperkuat Persib di ajang Indonesia Soccer Championship dengan alasan karena atmosfer dan kedekatannya dengan Bobotoh membuat dirinya menolak berbagai tawaran di Malaysia dan beberapa klub di Indonesia.

Cedera lutut memang sahabat Sergio selama ini, awal gabung Persib Mei 2016, Si Botak langsung merasakan nyeri di lututnya lagi ketika Persib berujicoba melawan Persikotas sebelum ISC 2016 kick off, Bahkan Sergio harus absen di beberapa pertandingan awal Persib.



Hingga puncaknya di perempat final Piala Presiden 2017, ketika Persib melawan Mitra Kukar. Lagi-lagi lututnya kembali merasakan nyeri dan mungkin kali ini terlihat parah, sergio harus ditandu keluar lapang dan bahkan ketika memasuki bus pemain Persib, Sergio terlihat harus dipapah sambil meringis kesakitan.


Sergio akhirnya menyerah dengan cedera lututnya, sehari sebelum pertandingan melawan Barito Putera minggu lalu, ketika Persib melakukan official training, tampak pemain 34 tahun ini dibalut pada bagian lututnya, namun Djanur keesokan harinya memaksakan Si Botak ini menjadi starter di pertandingan malam itu. 

Baru 13 menit berjalan, Sergio pun memberikan kode jika dirinya tidak dapat melanjutkan pertandingan. Ini mungkin menjadi pemulihan trauma yang panjang bagi Sergio di Belanda, bahkan mungkin perlu dilakukan tindakan medis bukan hanya sekedar therapy, jikapun ia, berapa lama Sergio akan bisa melakukan recovery dan akankah Persib menunggu?


Beralih ke Carlton Cole, pemain kelahiran Croydon, London, Inggris, pemilik 7 caps bersama Three Lions ini datang sebagai Marquee Player ke Bandung, sudah pasti background dan injury historynya bukan menjadi pertimbangan Persib untuk menolaknya, ini adalah pengecualian, karena Persib tidak melihat dari sisi kebutuhan tim dan resiko yang akan didapatnya, ini adalah hadiah dari Bos Glenn Sugita dari sisi bisnis Persib untuk meraup banyak sponsor dan exposure, sarua lah siga Essien, tapi Si Bisson secara peak performance menunjukan peningkatan yang lebih baik daripada Cole.

Cole, 9 musim di London Timur, Westham United, hingga digratiskan ke Glasgow Celtic. Alasannya? apalagi kalau bukan rentetan cederanya di akhir karir membela The Hammers, 2008 striker 191 cm ini  2 kali diterpa cedera, pertama yaitu dislokasi pergelangan kaki dan kedua adalah luka memar di kakinya, tidak terlalu parah memang. Cole masuk ke meja operasi di musim selanjutnya, Maret 2009, cukup parah kali ini, cedera pangkal paha, dua bulan ia tak bisa membela Westham. 



Akhir 2009 hingga awal musim 2010, krisis cedera Cole kembali, Knee-Op Injury, atau cedera lulut yang membutuhkan penanganan medis seperti mengganti bantalan tulang rawan pada sendi lutut, cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament) memang sangat bersahabat dengan pesepakbola, Sergio pun bisa saja didiagnosis seperti itu. 


Tiap musim di Liga Inggris, Cole selalu mendapatkan masalah dengan lutut dan betisnya, sama seperti di tahun 2011, Cole bermasalah dengan betisnya yang membuat pelatih Westham saat itu, Avram Grant pusing tujuh keliling karena striker yang dimilikinya diterpa cedera berbarengan. The Hammers di musim ini harus menelan pil pahit harus terdegradasi ke kasta kedua Liga Inggris, Championship League.


9 musim yang panjang pengabdian Carlton Cole bagi Westham, musim 2015-2016 akhirnya hijrah ke Skotlandia, memperkuat Glasgow Celtic, tak banyak yang bisa ia perbuat disana, hanya bermain 4 kali dalam satu musim dan tanpa torehan gol sama sekali. 

Alasannya apa lagi selain cedera yang dideritanya, bahkan Cole angkat bicara soal keadaannya pada saat itu, dimana ia mengundurkan diri dari klub dan berencana untuk gantung sepatu, namun Sacramento Republic, klub asal Amerika Serikat menampunya untuk mengembalikan kebugaran dan semangat Cole. Di Amerika, Cole hanya bermain 3 kali, sebelum akhirnya menerima pinangan Bos Glenn Sugita untuk berkostum Persib dan dijadikan Marquee Player ala-ala Liga Indonesia.



Jadi, punchline dari semua bahasan diatas adalah bagaimana Medical Center bisa meloloskan tes medis pemain yang mempunyai riwayat cedera yang cukup rawan? karena hal ini tidak melindungi sang pemain itu sendiri, opsi terburuknya bisa saja sang pemain bisa mengalami hal yang lebih fatal dari sebelumnya dengan alih-alih bisa bermain di salah satu klub, dan bagaimana seharusnya peran Dokter Tim untuk menganalisa hasil observasi tes medis dari Medical Center dan memberikan laporannya kepada Pelatih sebagai final step bagi setiap klub sepakbola untuk merekrut pemain? 

Bahasannya di artikel selanjutnya...


REVA KINARA / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 21 September 2017 | 10:50 WIB

    Fluktuasi Pemain dan Ball Possesion Ala Emral Abus

  • Minggu, 10 September 2017 | 19:39 WIB

    Momok Persib Dari Wamena, Kikuknya Post Bek Gawir Kiri

  • Selasa, 29 Agustus 2017 | 03:51 WIB

    Catatan Rekor Atep di Mandala Tahun Ini

  • Sabtu, 22 Juli 2017 | 15:08 WIB

    Lini Belakang Persib Dituntut Lebih Rapat dan Sigap

  • Kamis, 20 Juli 2017 | 21:16 WIB

    Analisis Jose: Persija Punya Leader di Semua Lini


Iklan Footer