It’s Time To Say Goodbye, Coach..

It’s Time To Say Goodbye, Coach..

Senin, 19 Juni 2017 | 19:26 WIB

KEMENANGAN tim Persib Bandung melawanPersiba Balikpapan menjadi pemecah kebuntuan setelah 4 pertandingan terakhirmeraih hasil minor. Namun bagi saya pribadi, dan mungkin untuk para bobotohyang lainnya belum cukup untuk membuktikan kepiawaian Kuch Djanur dalammemperbaiki kebututan permainan Persib saat ini.

Meski sebenarnya di sisi lain adarespon positif yang perlu diapresiasi dari Persib Bandung terkait kritikbobotoh akhir-akhir ini, misalnya anomali Kitman di DSP (Daftar Susunan Pemain)yang sudah menghilang, Sang Lord kita tercinta, Atep, yang memulai pertandingandi babak kedua, sampai hal intervensi dari lini bench.

Nah, berbicara tentangintervensi, muncul beberapa pertanyaan di benak saya, apakah pemilihan line-updan strategi Persib melawan Persiba kemarin malam murni pilihan Djanur tanpaada tekanan dari pihak manapun? Kalau benar, adakah perubahan? Karenajikamelihat secara organisasi permainan saya menilai tidak ada perbedaan denganpertandingan yang sebelum-sebelumnya, anggerripuh. Atau mungkin memang taktik Kuch Djanur yang memang begitu adanya?

Kemenangan semalam tentunya bisamengangkat moril pemain untuk menghadapi pertandingan selanjutnya, tapi jajaranmanajemen sudah seharusnya mengambil langkah cepat dan tepat untuk kembalimemperbaiki performa Persib.

Memang kita tak bisa mengingkaribahwa faktanya Djajang Nurjaman adalah sosok pelatih yang berhasil memutuspenantian 19 tahun Persib Bandung untuk menjadi juara. Namun satu hal yangperlu direnungkan, apakah Djajang Nurjaman masih jadi sosok yang tepat bagi timPersib Bandung?

Mari kita sejenak menengok kebelakang saat Djanur diangkat sebagai pelatih Persib Bandung pada musim 2012-2013.Pengalaman menjadi asisten pelatih Sir Indra Thohir, Arcan Iurie, MishaRadovic, hingga Rahmad Darmawan pada waktu itu belum cukup meyakinkan bobotoh untukmempercayakan kursi panas pelatih Persib kepada beliau.

Di awal masa kepelatihannya ditim Persib, Kuch Djanur mulai mencoba menarik perhatian bobotoh denganpermainan khas Persib, dari kaki ke kaki. Dengan merekrut beberapa pilar yangnotabene adalah pondasi tim juara Sriwijaya FC di musim 2011-2012 sebut sajaFirman Utina, Muhammad Ridwan, Supardi Nasir, dan Achmad Jufriyanto, pada akhirnyaDjanur berhasil mengantarkan Persib Bandung meraih tahta tertinggi sepakbolaIndonesia di musim keduanya.

Ya, kita berhasil jadi juara,tapi masih ada yang mengganjal bagi saya, mampukah Djanur membangun pondasi timjuara dari nol seperti yang dilakukan Sriwijaya FC ketika itu? Mungkin sayaadalah salah satu dari bobotoh yang menyayangkan kenapa Djanur kembali bersediamenangani Persib pada saat pertengahan musim TSC 2016. Selain meningkatnyabeban ekspektasi dan menuntut improvisasi lebih dalam hal teknis, sayaberpendapat akan lebih indah jika pamor Djajang Nurjaman sebagai legenda hidup yangdielu-elukan bobotoh tetap abadi.

Entah memang hanya kebetulan atau bukan, tapi seperti yang saya tulissebelumnya, Djanur benar-benar memiliki beberapa persamaan dengan ArseneWenger. Pertama, pernah suatu ketika Arsene Wenger menyatakan taktik itu bukansuatu hal yang utama, karena pada faktanya pemainlah yang menentukan dilapangan. Kuch Djanur juga demikian, pertandingan melawan Persiba semalammenjadi bukti sahih kemenangan Persib diraih berkat hasil jerih payah pemainkarena tanpa pola permainan yang cukup jelas. Perlu diingat bahwa Persiba saatini berada di juru kunci klasemen sementara, tapi dengan gameplan dan taktikyang tepat dari sang pelatih anyar, Milomir Seslija, Persiba hampir mencuripoin dari tim sekelas Persib Bandung.

 

Kedua, dalam hal taktik, Wenger dan Kuch Djanur sama-sama memilikikekurangan dalam  hal mengeksplorberbagai macam perubahan taktik dan strategi. Wenger pun mengaku dirinya baru melakukan perubahan ekstrim setelah 20 tahundengan memasang formasi tiga bek pada pertandingan melawan Middlesbrough musimkemarin.

 

Dan Kuch Djanur pun demikian, dengan keukeuh pada strategi mapay gawir-nya, Kuch Djanur mungkinberharap tim lawan amnesia dan berbaik hati mengizinkan RX-Bow, Lord Atep, Matsunagaatau Billy menembus sektor sayapnya lalu mencetak gol. Ketiga, beberapa punditdi Inggris mengatakan taktik Arsene Wenger sangat bergantung kepada kualitaspemainnya.

 

Skuad “The Invincibles”-nya Arsenal ketika itu merupakan kombinasiyang pas dari beberapa pemain terbaik dan sejumlah pemain muda berbakatsehingga bisa mencapai puncak prestasi Arsenal. Hmmm, Djanur sepertinya begitujuga. Karena tak bisa dipungkiri, gerbong juara Sriwijaya FC plus beberapapemain berkualitas berpengaruh besar pada tim Persib saat meraih juara ligamusim 2014.

 

Sungguh tidak ada yang meragukan lagi kemewahan skuad Persib musimini, tapi apakah Kuch Djanur mampu meramu tim ini sehingga bisa juara untuksekali lagi? Dengan tanpa mengurangi respek saya, Coach, mungkin ini saatnyasaya mengucapkan… “Thanks for the memories, but it’s time to say goodbye…”

 

Cuma bobotoh yang bisanya cuma ngritik, gak bisa maen bola, apalagingelatih Persib. Berkicau di akun @qyoyeah




REVA KINARA / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Jumat, 15 September 2017 | 10:20 WIB

    Liga Yang Tak (Pernah) Profesional

  • Selasa, 12 September 2017 | 18:38 WIB

    Panjang Umur Solidaritas Bobotoh!

  • Kamis, 17 Agustus 2017 | 07:58 WIB

    Ketika NALURI Dibutakan oleh BATI

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 12:48 WIB

    Cing Gede Milik SIB...!!!

  • Minggu, 6 Agustus 2017 | 20:13 WIB

    Menggugat Pernyataan 'Bobotoh Dilarang Tonton Persib'

  • Senin, 31 Juli 2017 | 07:30 WIB

    Ngala Bati Tina Rongsok

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 20:19 WIB

    Bangga Atas Sebuah Dosa dalam Rivalitas

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 19:14 WIB

    Curahan Hati Ketua Viking Frontline

  • Senin, 24 Juli 2017 | 11:42 WIB

    Persib Gagal Lagi Angkat 'ASA' Kami


Iklan Footer