Karena Saya Bobotoh yang Santun

Karena Saya Bobotoh yang Santun

Jumat, 9 Juni 2017 | 16:21 WIB
SAYA telah lama menjadi bobotoh, mungkin sejak pertama kali mengenal Persib, di saat itu juga saya menasbihkan diri untuk tetap mendukung Persib hingga hari ini.

Dan bersyukur juga dengan pendidikan akhlak dan agama, saya yang beranjak dewasa ini masih memiliki moral yang baik di masyarakat. Hingga hari ini saya cukup dikenal sebagai manusia yang santun karena masih berucap salam ketika masuk kelas, izin saat keluar ruangan, dan tak lupa menyapa orang – orang sekitar. Tapi di saat Persib seperti ini, tak sedikit pun terbersit keinginan untuk menjadi bagian bobotoh santun di luar sana.

Template bobotoh santun adalah kalimat “Jika kalian tidak bisa mendukung kami saat kami kalah jangan pernah bersorak ketika kami menang”, atau setiap kalimat dimulai dengan kata-kata “cik atuh lur, cik atuh bobotoh, cik atuh.” Ah mahia weh. Tak sampai hati ini, ketika membaca komentar beberapa akun twitter mengomentari aksi pitch invasion teman-teman bobotoh lainnya saat bertandang di Bekasi. Seringkali bobotoh santun menyebut individu-individu yang konsisten mengkritik Persib adalah bobotoh karbitan, kurang setia, baru dukung Persib sejak Essien latihan di Arcamanik. Padahal perihal kesetiaan tak usahlah meragukan bobotoh seantero dunia. Setiap tahunnya diberi harapan setinggi langit meski akhirnya hanya berakhir kekecewaan. Walau puasa gelar 19 tahun pun diakhiri dengan bahagia. Jadi, masalah kesetiaan bobotoh hanya kalah dari supoter Liverpool di Inggris sana. Percayalah, bobotoh adalah arti sebenarnya dari loyalitas.

Melihat kondisi Persib yang carut marut di musim ini, saya pun berada pada sisi yang memilih untuk menglengserkan Djajang Nurjaman dari kursi kepelatihan. Saya pun sadar, terpuruknya Persib ini bukanlah kesalahan Djanur sepenuhnya. Akan tetapi memang yang akan selalu tersudutkan jika seringkali terjadi kesalahan taktikal tentunya posisi pelatih.

Salah satu kesalahan taktikal yang terus terulang di musim ini adalah, tetap membiarkan Atep memulai laga di starting eleven. Entah apa yang ada di benak Djanur atau siapapun yang berhak menentukan starting eleven, Atep tak lagi memiliki magisnya musim ini. Ingat bagaimana ia begitu kewalahan melewati Leonard Tupamahu, atau jika itu terlalu lama tentu kita semua bagaimana Atep menyia-nyiakan umpan 100 juta di depan gawang Bhayangkara FC di pertandingan terakhir. Kesalahan taktikal yang cukup segar untuk diingat adalah bagaiman Persib bisa bermain dengan satu bek tengah di menit – menit akhir pertandingan. Asumsinya adalah adanya ketidakjelasan pemberian intruksi di antara Djanur dan pemain. Sugan weh in mah Djanur nyarios make bahasa Sunda, didangu ku Shohei. Shohei mere intruksi ka Maitimo ku bahasa Jepang, nya ges hancur lebur eta formasi.

Keinginan untuk mengganti Djanur pun semakin kencang setelah menilik bagaimana Djanur bereaksi atas kritik yang terus menerpa dirinya dan manajemen. Sulit memahami logika berfikir Djanur yang mencoba mempertanyakan kontribusi Bobotoh untuk Persib selama ini. Tak perlulah saya menulis apa saja yang telah diberikan bobotoh untuk Persib. Meminta Djanur mundur pun bukanlah suatu bentuk kebencian dari kami, hal ini adalah rasa kanyaah, rasa kami berterima kasih, karena yang terlihat saat ini Djanur seperti menahan beban berat sendirian di kala nama – nama lain ikut berkontribusi membuat Persib seperti ini.

Mau itu pemecatan atau memilih jalan mundur memang akan sedikit mencoreng catatan karir kepelatihan seorang Djanur, akan tetapi prestasi yang pernah diberikan Djanur sampai hari ini untuk Persib ketika sebagai pemain, assisten pelatih, ataupun pelatih tak akan pernah terlupakan. Rekor itu akan selalu diingat selamanya oleh boboth santun atau bobotoh yang “kurang” santun seperti saya.

Nuhun Coach Djajang Nurjaman.


Penulis: Daniel Fernandez, twitter @L1_segitiga. 


REVA KINARA / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Jumat, 15 September 2017 | 10:20 WIB

    Liga Yang Tak (Pernah) Profesional

  • Selasa, 12 September 2017 | 18:38 WIB

    Panjang Umur Solidaritas Bobotoh!

  • Kamis, 17 Agustus 2017 | 07:58 WIB

    Ketika NALURI Dibutakan oleh BATI

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 12:48 WIB

    Cing Gede Milik SIB...!!!

  • Minggu, 6 Agustus 2017 | 20:13 WIB

    Menggugat Pernyataan 'Bobotoh Dilarang Tonton Persib'

  • Senin, 31 Juli 2017 | 07:30 WIB

    Ngala Bati Tina Rongsok

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 20:19 WIB

    Bangga Atas Sebuah Dosa dalam Rivalitas

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 19:14 WIB

    Curahan Hati Ketua Viking Frontline

  • Senin, 24 Juli 2017 | 11:42 WIB

    Persib Gagal Lagi Angkat 'ASA' Kami


Iklan Footer