Yang Fana Hanyalah Jarak, Karena Kamu Tetap Terasa di Setiap Detak

Yang Fana Hanyalah Jarak, Karena Kamu Tetap Terasa di Setiap Detak

Rabu, 7 Februari 2018 | 22:39 WIB
Februari jatuh di kota ini, Surabaya. 

Namun sedih sebab Persib tak lolos di turnament pra musim Piala Presiden 2018 belum juga pergi. Minggu-minggu patah hati itu belum juga sirna, ditambah krisis internal dan eksternal tim yang tak ada habisnya yang membuat emosi bobotoh menguap, bak pisau yang mengiris-iris sebentuk daging di bilik dada sebelah kiri, ngilu.

Agar perasaan tak karuan ini kembali pulih, Persib mencoba meredam kekecewaan Bobotoh dengan mendatangkan dua mantan pemain PSM Makassar, Muchlis Hadi dan Ghozali Siregar. Dan dilanjut dengan kegiatan piknik Persib pasca bubuk di Pilpres 2018, yang teranyar adalah membawa tim gelar Training Center kedua di Jepara. 

Untuk kesekian kalinya, Opa Gomez berdalih disana ada lapangan yang representatif, karena manajemen masih kesulitan mendapatkan kondisi lapangan yang bagus di Bandung. Cuaca panas Jepara yang berada di kawasan pantai menambah nuansa variasi latihan baru. 

Seperti yang kita ketahui, Persib adalah tim besar yang telah melahirkan banyak talenta-talenta hebat, dari dahulu, kini dan nanti. But, sorry to say skuat inti Persib yang sekarang sudah lewat masa emasnya. Siapa saja?, Di antara nya N'Douassel yang hobi mengoleksi kartu, Essien yang terus berkutat dengan cederanya, Ebol (Eka Ramdani) memasuki babak kedua lupa caranya untuk mengumpan, Ronggo lebih sering ruku di lapangan, Mas Har dan Supardi sudah tidak segarang dulu. Eeehh junjungan kami the one and only Lord A7 kumaha ?

Tim batur teh regenerasi pemain, si kesayangan Persib ngadon reuni dongs. Herman! Teeq'an!

Tahu ga Sib, hati kita sama sama terbagi. Kamu jadi dua (dilema antara kepentingan pribadi dan tim) sedangkan kami berkeping keping, so sad to say.

Jangan jadi tim bodor please, berkaca dari The Golden Era
Percayalah Sib, tidak ada yang melelahkan daripada melawan perasaan diri sendiri. Kami bobotoh berhasil melewatinya bertahun tahun, ketika kamu puasa gelar sampai pada akhirnya kembali juara ISL 2014. Sering kali, kami dihantam rasa lelah. Namun, selalu ada alasan untuk tetap bertahan.

Cinta bukan tentang bagaimana rasa itu jatuh, melainkan bagaimana ia tetap bisa hidup di dada yang rapuh.

Cinta bukan juga tentang bagaimana rasa itu ada, melainkan tentang bagaimana ia tetap terjaga meski banyak pinta melepaskan setia. 

Segala penantian akan terbayar pada waktunya. Aspek mentalitas pemain pun menjadi fokus paling utama untuk dipulihkan sebagai modal menatap liga sesungguhnya. Opa Gomez berkata ia perlu waktu 6 bulan untuk membangun tim ini menjadi lebih baik. 

Bah Djanur saja membentuk tim hingga dua musim, sampai baru bisa membawa pulang piala demi piala di musim berikutnya. Waktu yang cukup lama dan juga melalui proses yang tidak sebentar.

Tulisan ini dibuat dengan buru-buru. Sebelum kepak sayap pesawat melesat dan memburu, aku rindu kamu dari kemarin.

Sekarang juga,
Mungkin sampai besok,
Kita lihat saja.

Sepertinya seterusnya akan sama juga.,
Maret nanti kita bertemu,
sebelum rindu membiru.

Bukankah kita memang harus meyakini, bahwa rupa rupa dukungan kita terhadap Persib adalah bentuk dari jatuh cinta lagi dan lagi. PERSIB ALL THE WAY!


Penulis, Maya Irfandhi, ditulis dari ketinggian sekitar 16.500 KM diatas laut, merajut kata di akun Twitter @mayairfandhi

FIRMAN FAUZI / VPC / RED3

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 25 Februari 2018 | 20:16 WIB

    Memahami Makna Pelatih Asing di Persib

  • Jumat, 23 Februari 2018 | 22:53 WIB

    Gomez dan Kutukan Pelatih Asing Persib

  • Rabu, 21 Februari 2018 | 18:03 WIB

    Istilah Kabeh Dulur Kini Hanya Terasa di Laga Away

  • Senin, 19 Februari 2018 | 18:00 WIB

    The Jakmania di Antara Anis dan Ahok

  • Senin, 5 Februari 2018 | 08:20 WIB

    Goong Nabeuh Manéh

  • Minggu, 4 Februari 2018 | 20:32 WIB

    Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen


Iklan Footer