Kebijakan Transfer Anomali dan Disharmoniasi Media Handling Persib

Kebijakan Transfer Anomali dan Disharmoniasi Media Handling Persib

Selasa, 6 Februari 2018 | 20:01 WIB
Ada satu kutipan menarik yang saya dengar dari Fahmi salah seorang kawan saya di Jogja yang intinya begini, Bagaimana akan berdirinya suatu bangunan yang kokoh, jika sebagian orang membangun dan sebagian orang menghancurkannya. Cocok rasanya jika melihat apa yang terjadi dalam tubuh Persib musim ini.

Saat seluruh tim peserta Liga I mungkin berada di tikungan terakhir warm-up lap menyambut kompetisi, anomali justru menghinggapi Persib Bandung. Pasca babak belur di Piala Presiden, Persib mengalihkan fokus pada persiapan Liga I yang kurang lebih tinggal menyisakan waktu 1 bulan justru dihinggapi berbagai permasalahan.

Anomali dimulai saat jagat dunia maya dikagetkan dengan hengkangnya bek yang begitu dicintai bobotoh yaitu Ahmad Jufriyanto  yang berlabuh bersama Kuala Lumpur FA, Malaysia. Meski beberapa hari belakangan sempat beredar gosip akan menuju PSM, namun waktu menjawab Malaysia Super League lah pilihan Jupe. 

Disaat yang bersamaan, di media sosial beredar screenshot percakapan Jupe yang beberapa diantaranya membahas perihal mengapa Persib dan Jupe sepakat mengakhiri kerjasama. 

Hingga beberapa hari kemudian hengkangnya Jupe justru memantik pernyataan-pernyataan kontroversial “dalam” itu sendiri. Ditengah proses pembentukan tim yang masih berlangsung, nada-nada sumbang justru semakin menyeruak kepermukaan bahwa Mario Gomez dibalik ator hengkangnya Jupe.

Namun toh, jika memang Jupe tidak masuk dalam skema pelatih, status pemain bintang, pemain yang dicintai oleh fans atau bahkan legend sepertinya tidak akan berpengaruh apa-apa. Tengok saja Ibrahimovic saat di Barcelona, Rooney dan Mkhitaryan di MU, Raul dan Casillas di Madrid yang harus angkat kaki dari klubnya. Namun, Jupe tetaplah Jupe yang pasti akan kita ingat bersama kontribusi, dedikasi, dan tentu gol pinaltinya ke gawang Persipura. Dan yang perlu dicatat kepergiannya pun bukan didasari takut bersaing dengan Duo CB anyar.

Dari sana lantas muncul beragam asumsi mengani kurang harmonisnya beberapa petinggi klub dengan staf pelatih baru. Kita pernah mendengar atau membaca diberbagai media mengenai bagimana salah seorang petinggi klub begitu kecewa dan secara blak-blakan membeberkan proses kepergian Jupe, juga mengenai informasi bagaimana komunikasi antara pelatih dan asisten pelatih yang baru dengan manajemen yang jika diamati nampaknya ada sesuatu yang klise hingga kita sebagai bobotoh tentu bertanya-tanya.

Kebijakan Transfer
Lebih lanjut, persoalan kebijakan transfer Persib memang selalu riuh dari tahun ke tahun dan semakin membuat penasaran bobotoh. Penasaran disini dalam arti apakah kebijakan tersebut atas rekomendasi pelatih ataukah ada intervensi seperti isu pemain titipan yang merebak belakangan ini. 

Transfer Persib musim ini dikagetkan dengan kembalinya Eka Ramdani dan Airlangga yang dianggap sudah melewati masa keemasan dan usia yang tak lagi muda dan sempat dianggap sebagai pemain titipan, lalu duo papua yaitu Patrich Wanggai yang juga sempat mendapat respon penolakan dari bobotoh dan Okto Maniani yang sempat dating untuk trial namun pada akhirnya tidak ikut latihan sama sekali dan tak jadi direkrut, hingga yang paling baru adalah gagalnya Persib memboyong Rumere yang sempat diunggah akun media sosial official klub akan merapat.

Hal yang menjadi perhatian dalam kebijakan transfer klub ini diantaranya pertama soal kebutuhan tim. Berkaca dari musim lalu, saat Persib membutuhkan penyerang yang datang justru seorang gelandang bertahan yang justru dipaksa untuk main sebagai gelandang serang. Maka dari itu wajib rasanya kepentingan transfer Persib musim ini didasarkan pada kebutuhan atau kekurangan tim sesua rekomendasi pelatih jika memang ingin performa “Persib yang sesungguhnya”.

Kedua adalah soal regenerasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa dari Class of 2014 sudah lanjut usia sehingga cukup berpengaruh terhadap performa dilapangan. Alih-alih melakukan regenerasi, pemain yang datang kebanyakan justru telah menginjak usia kepala tiga. Sejauh ini hanya Muchlis Hadi dan Ghozali yang bida dibilang masih muda. Meskipun memang beberapa masih pantas untuk berbaju Persib dan tak menutup kemungkinan akan adanya pemain yang keluar masuk, regenerasi juga harus diperhatikan oleh manajemen dan staf pelatih

Ketiga, berkaitan negosiasi dan profesionalisme mekanisme transfer. Kegagalan menggaet Rumere jadi pertanda bahwa harus ada evaluasi berkaitan dengan proses transfer yang dilakukan. Bagaimana mungkin saat pihak klub sudah mengumumkan seorang pemain akan merapat, namun sang pemain yang bersangkutan pada akhirnya tidak jadi datang karena telah terikat kontrak atau klub tidak mengizinkan. Hal ini mengingatkan pada kasus Patrick Cruz dan Milomir Seslija yang akhirnya batal merapat setelah sebelumnya diumumkan terlebih dahulu merapat. Ini juga jadi pelajaran bukan hanya untuk manajemen juga untuk bobotoh mengenai etika transfer antar pemain yang terkadang, telah ramai dibicarakan akan merapat namun pada akhirnya kita harus merugi dengan gagalnya sang pemain berlabuh ke Persib.

Media Handling
Dalam artikel lawas saya yang berjudul Menggugat Profesionalisme Aspek Administrasi Persib Bandung pernah disinggung mengenai tata kelola klub sepak bola khususnya bagi Persib bahwa pentingnya menjalankan aspek  personel dan administrasi yang harus dilaksanakan oleh setiap orang dibidangnya berdasarkan spesialisasi kerjanya.

Sebagimana kita lihat, arus informasi keluar dari Persib tidak satu pintu. Kita melihat seolah petinggi Persib bisa bergantian memberikan pendapat atau suaranya kepada media. Hal ini tentu akan sangat berbahaya jika tidak ada komunikasi antar petinggi klub bisa menyebabkan beragamnya informasi yang beredar. Apapun yang informasi yang keluar dari siapapun manajemen, tentu informasi tersebut merepresentasikan Persib itu sendiri. Bagaimana jadinya jika pernyataan satu petinggi klub beda dengan petinggi klub lainnya? Contoh nyata terjadi beberapa waktu lalu saat Kim Kurniawan mengumumkan menandatangani kontrak baru namun masih akan dikonfirmasi oleh petinggi klub yang lain

Maka begitu pentingnya peran media officer sebuah klub untuk menjembatani pertanyaan wartawan dan membina hubungan yang baik dengan media serta menjaga alur informasi yang kredibel dan tepat. Hal ini dapat menghindarkan kegaduhan-kegaduhan yang disebabkan oleh pernyataan-pernyataan random dari berbagai petinggi yang pada akhirnya bisa menjadi kontroversi dan perdebatan publik.

Spesialisasi kerja berdasarkan profesi dan jabatan perlu untuk diperhatikan sebagai salah satu pelaksanaan administrasi pengelolaan klub yang profesional. Media handling akan sangat berguna bukan hanya sekedar menangani perihal wawancara, promosi atau klarifikasi terhadap media, tetapi mengelola media sendiri termasuk juga media sosial.

Pada akhirnya, semua elemen harus kembali pada apa yang sudah menjadi tugasnya. Kegagalan di Piala Presiden harus dijadikan evaluasi sebagai pelajaran dalam membentuk sebuah tim. Arena pertempuran sesungguhnya adalah Liga I, perlu adanya sinergi antara manajemen dan pelatih untuk menambal kekurangan-kekurangan dan sesegera mungkin melakukan perbaikan dari berbagai sisi. 

Bobotoh juga harus bersabar dan jangan terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap tim yang masih dalam pembentukan. Kita semua paham betul bahwa semua hal butuh proses termasuk mengembalikan Persib menjadi jaya kembali. Saat Gomez mengatakan ia butuh 6 bulan untuk membangun tim. Percayakanlah. Kita tahu Djanur dan Guardiola membentuk tim hingga satu tahun sampai menikmati hasilnya di musim keduanya.

Melanjutkan kutipan diawal paragraf, untuk membangun sebuah gedung yang menjulang tinggi, tentu perlu pondasi yang kokoh didasarnya. Jika saat membuat pondasi, bahan baku bangunan tidak sesuai spek dan apalagi banyak direcoki, percayalah keruntuhan tinggal menunggu waktu. #AyoBangunPersib

Yogi Miftahul Fahmi, bobotoh yang siap bertegur sapa melalui @yogimfahmi


FIRMAN FAUZI / VPC / RED3

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 25 Februari 2018 | 20:16 WIB

    Memahami Makna Pelatih Asing di Persib

  • Jumat, 23 Februari 2018 | 22:53 WIB

    Gomez dan Kutukan Pelatih Asing Persib

  • Rabu, 21 Februari 2018 | 18:03 WIB

    Istilah Kabeh Dulur Kini Hanya Terasa di Laga Away

  • Senin, 19 Februari 2018 | 18:00 WIB

    The Jakmania di Antara Anis dan Ahok

  • Senin, 5 Februari 2018 | 08:20 WIB

    Goong Nabeuh Manéh

  • Minggu, 4 Februari 2018 | 20:32 WIB

    Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen


Iklan Footer