Menurunkan Ekspektasi, Botol dan Kesalahkaprahan Makna Anarki

Menurunkan Ekspektasi, Botol dan Kesalahkaprahan Makna Anarki

Senin, 5 Februari 2018 | 14:54 WIB
Terkubur sudah peluang Persib untuk lolos ke babak 8 Besar Piala Presiden 2018, Maung Bandung tidak dapat mejaga tradisi positifnya di turnamen pra musim tahun ini. 

Persib dikalahkan oleh PSM Makassar di kandang sendiri. Selain kekalahan persib dan kepergian Achmad Jufriyanto, ada satu hal lain yang membuat kepala saya (mungkin juga kawan lain) rungsing, dengan banyaknya serangan bertubi-tubi dari supporter lain yang merespon aksi segelintir bobotoh saat mengungkapkan kekecewaannya dengan melakukan pelemparan botol setelah laga usai. 

Mun ceuk Ustad Evie Effendi mah, "Teu nanaon sih, ngan nanaonan?" Lebih mengherankan lagi hal tersebut terjadi saat pra musim (bukan berarti nanti saat liga mewajarkan), namun atas dasar apa mereka melakukan pelemparan seperti itu? apakah sedemikian tingginya harapan Bobotoh? Atau mungkin hanya segelintir oknum? Entahlah.

Sebab, meski prestisius, Piala Presiden hanyalah ajang pemanasan. Sejatinya turnamen pramusim ini memang dipakai tim untuk mencari kekuataan terbaiknya. Terlebih Mario Gomez telah menjelaskan bahwa tak akan mematok target tinggi dan tidak menjanjikan harapan tinggi kepada bobotoh. Dan setelah melihat kedalaman skuad Persib U-35 kemarin memang sulit untuk diharapkan berbuat banyak di turnamen tersebut, "Uyuhan Sib!". 

Gomez pun melihat ada hal penting di luar urusan pencapaian tim di Piala Presiden 2018. "Fokus kita adalah di Liga Super Indonesia (Liga 1)‎, tapi bukan berarti Piala Presiden menjadi tidak penting apalagi ini turnamen yang bagus di Indonesia," ungkap Gomez, dilansir dari laman resmi Persib.

Sebaiknya Bobotoh sedikit menurunkan ekspektasinya dan juga bersikap realistis saat mendukung Persib menjalani laga pra musim. Sekarang, mari kawal dan terus gaungkan tagar #JagaGomez agar beliau senantiasa dijauhkan dari pihak yang menginginkan disharmonisasi dalam Tim, juga yang memiliki kepentingan pribadi. Dan jangan pula kita menghakimi sepihak aksi pelemparan botol oleh Bobotoh sebagai kesalahan tunggal, karena kinerja panpel pun harus dipertanyakan.

Selain itu, saya juga ingin mempertanyakan perihal termin anarkis yang dijadikan subjek oleh beberapa awak media dalam mewartakan aksi pelemparan yang dilakukan bobotoh kemarin. Sangat mengherankan di era digital seperti ini masih banyak media yang memakai termin anarkis untuk mendiskreditkan setiap keonaran yang terjadi. Suatu logika kolot yang sistemik. Mungkin didasari atas perjalanan sejarahnya yang beriringan dengan kekerasan, namun apakah wajar bila saat ini masih banyak yang beranggapan bahwa istilah anarkisme itu berkonotasi sangat negatif? 

Setau saya, anarkisme adalah sebuah paham yang cukup sulit untuk dipahami, selain beberapa menganggap utopis, juga karena bersebrangan dengan gagasan konservatif yang sedari dulu (secara tidak sadar, mungkin) telah tertanam dalam diri.

Ijinkan saya memaparkan sedikit informasi yang merujuk pada berbagai pustaka dari seorang kawan. Anarkisme adalah sikap kemerdekaan, bukan pembangkangan, terlebih kejahatan. Anarkisme sebagai gagasan turut menyumbangkan konsep ideal tentang perwujudan nilai humanisme universal: sebuah asas kemerdekaan tiap individu semutlak-mutlaknya. Sepenuh-penuhnya. Hingga tak ada satu bentuk kekuasaan dalam porsi segenggam tangan pun yang dapat mengambil alih kekuasaan individu lain. Salah satu ideologi yang cukup manusiawi, menurut saya..

Dalam ranah sepakbola ada Sankt Pauli dan FC United of Manchester (FCUM), mereka adalah salah dua klub sepakbola anarkis yang tetap melanggengkan sepakbola keindahan dan sukacita di tengah cengkraman kapitalisme global. Keduanya didirikan dengan itikad anarkisme yang kuat. Tiap tahun, mereka menggelar sebuah turnamen sepak bola alternatif yang menjadi tandingan terhadap sepak bola kapitalis, turnamen tersebut digelar setiap perayaan Mayday yang jatuh pada tanggal 1 Mei. Mereka menamainya Spirit of Shankly, dengan jargonnya, “I dont have to sell my soul”. Karena militansinya, suporter FC United of Manchester ini disebut sebagai “Punk of Football”. Entah kebetulan atau tidak, FCUM pun menamai konsep manajerial keuangan mereka dengan slogan: “Punk Finance”, yaitu cara mendanai klub tanpa masukan dari bank-bank maupun korporasi besar. Suatu hal yang sangat kontradiktif dengan Manchester United Football Club. (Eddward S. Kennedy, 2014)

Di Argentina pada tahun 1908, sudah lebih dulu terdapat sebuah klub sepakbola anarkis dengan nama Atletico Libertarios Unidos (Libertarians United), klub tersebut di dirikan atas dasar perlawanan terhadap oligarki yang melabeli siapa-siapa yang melawannya sebagai subversif. 

Dua tahun sebelumnya, sebuah klub bernama Argentinos Juniors juga didirikan oleh para martir Anarkis di Argentina sebagai bentuk kehormatan para pejuang Haymarket anarchists dan Chacarita Juniors. Dengan semboyan “In soccer you learn how to act in solidarity”, Argentinos Juniors memakai seragam berwarna merah-hitam sebagai simbol perlawanan. Warna seragam yang di kemudian hari juga turut dipakai klub sepakbola  anarkis lain di Uruguay bernama Progreso Uruguay.

Gabriel Kuhn (seorang pemain sepakbola dan anarkis) berpendapat seperti ini, "Anarchist Football (Soccer) Manual", menolak sepakbola modern yang dianggap dikendalikan oleh kalangan menengah atas demi komersialisasi dan kepentingan kapital. Lebih dari itu, para penggagas “Anarchist Football (Soccer) Manual” menilai bahwa industrialisasi sepakbola saat ini telah mengeksploitasi daya saing alamiah manusia, yang kemudian mengikis rasa solidaritas antar sesama individu/kolektif. 

Para anarkis berusaha mengembalikan esensi sepakbola yang sederhana dengan cara mereka masing-masing, membuat sebuah klub kolektif yang bebas dari eksploitasi laiknya sepakbola industri, merebut kontrol klub dari tangan-tangan licin para pemegang modal yang tidak pernah benar-benar peduli kepada sepak bola.

Sedikit penjelasan di atas mungkin bisa memberi sedikit gambaran dan alasan agar kesalahkaprahan perihal definisi anarkisme segera dihentikan. Mungkin istilah ‘Chaos’ lebih tepat untuk mendeskripsikan kekhilafan Bobotoh beberapa waktu lalu, dan juga sekedar meluruskan pemahaman akan konsepsi ‘anarkisme’, meskipun saya tidak selalu sejalan dengan gagasan tersebut.

Dan pada akhirnya, apapun bentuknya, jangan sampai ketidaktahuan menjadikan kita sebagai generasi pembenci tanpa paham. Saya pikir, sebuah gagasan yang dulu pernah dicetuskan Herru Joko, yakni, 'Kabeh Dulur' bisa  menjadi kunci segala-galanya. Mari bersiap dan terus #JagaGomez

Penulis, Yogi Esa Sukma Nugraha, masih terus mencari tulang rusuk yang hilang. Bisa ditemui di akun Twitter, @SukmaNugraha55.

FIRMAN FAUZI / VPC / RED3

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 25 Februari 2018 | 20:16 WIB

    Memahami Makna Pelatih Asing di Persib

  • Jumat, 23 Februari 2018 | 22:53 WIB

    Gomez dan Kutukan Pelatih Asing Persib

  • Rabu, 21 Februari 2018 | 18:03 WIB

    Istilah Kabeh Dulur Kini Hanya Terasa di Laga Away

  • Senin, 19 Februari 2018 | 18:00 WIB

    The Jakmania di Antara Anis dan Ahok

  • Senin, 5 Februari 2018 | 08:20 WIB

    Goong Nabeuh Manéh

  • Minggu, 4 Februari 2018 | 20:32 WIB

    Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen


Iklan Footer