Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen

Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen

Minggu, 4 Februari 2018 | 20:32 WIB

HIRUK pikuk sepakbola di Bandung tetap saja semarak dan ramai meski masih dalam pra musim dan pembentukan tim. Setelah ramai mengenai kepindahan Jupe dan proses kebijakan transfer pemain Persib yang masih berlangsung, ada isu menarik yang kali ini datang dari para mantan atau bahkan bisa disebut legend Maung Bandung.


Dalam beberapa kanal berita favorit bobotoh, isu yang mengerucut mengenai kepedulian dari mantan pemin Persib beserta 36 PS atas apa yang terjadi pada Persib hari ini. Dijelaskan pula bahwa pada intinya para mantan ingin lebih memberikan kontribusi terhadap Persib. Mereka berpendapat (mantan Persib) bahwa selama ini hanya diikut sertakan dalam kegiatan seremonial belaka dan sulit untuk mendapat akses untuk berkomunikasi dengan PT. PBB. 

Lantas terkait keinginannya untuk dilibatkan dalam pemilihan pemain merupakan sesuatu yang tepat? Jika melihat konteks yang terjadi dalam sepakbola baik dalam maupun luar negeri, keterlibatan mantan pemain atau bahkan legenda dalam manajemen bukan hal baru bahkan merupakan hal yang lumrah. Selain menjadi seorang pelatih, asisten pelatih atau pelatih akademi klub, seorang mantan pemain bisa saja masuk ke jajaran manajemen.

Tengok saja misalnya Javier Zanetti yang jadi petinggi klub di Inter Milan dan Pavel Nedved di Juventus, klub sekotanya dulu AC Milan juga mempunyai Leonardo Araujo yang sebelum menjadi pelatih Milan maupun Inter sempat menduduki jabatan Direktur Teknik. Alhasil Alexandre Pato dan Kaka adalah contoh nama-nama yang bisa beliau angkut ke AC Milan hingga menasbihkan Kaka sebagai Pemain Terbaik Dunia dimasanya. 

Peran lain yang tak kalah menarik dari seorang mantan pemain pada sebuah klub juga dilakoni oleh Ronaldinho si murah senyum yang menjadi Brand Ambassador dari Barcelona. Namun apakah label seorang mantan bisa dengan mudah untuk masuk ke jajaran manajemen klub? Tentu jawabnya tidak semua. 


Tengok saja bagaimana Paolo Maldini seorang Legenda AC Milan, Italia bahkan dunia, sampai detik ini masih belum masuk jajaran manajemen ‘China” nya AC Milan. Justru ada hal menarik yang bisa diambil dari kisah Maldini ini. Saat proses akuisisi dari manajemen lama ke yang baru telah rampung, Maldini ditawari oleh CEO AC Milan Marco Fassone untuk menduduki jabatan direktur teknik. 

Namun Maldini pada akhirnya menolaknya setelah terjadi diskusi panjang dan alot Padahal dengan nama besar dan kharismanya rasanya Maldini sangatlah pantas mendapatkannya. Apalagi ditengah situasi prestasi AC Milan yang sedang dalam fase kurang baik Seperti dikutip dalam laman republika.co.id, bisa saya simpulkan bahwa ada idealisme dan nilai independensi yang Maldini pegang berkaitan dengan tawaran posisi tersebut. 


Lihat saja pernyataannya “Aku tidak bisa menerimanya, aku harus menghormati begitu banyak supporter yang dalam beberapa tahun ini telah berpihak bersamaku karena semangat, keinginan, dan komitmen serta nilai-nilai kebesaran tim. Aku tak pernah memaksa meminta peran seperti CEO yang memegang kekuasaan penuh. Aku tahu kapasitasku”. 

Berkaca dari beberapa contoh diatas, bagaimana seorang mantan pemain dan legenda klub berperan dan berkontribusi untuk klub yang dulu pernah dibelanya bisa bermacam cara. Namun yang patut digaris bawahi dalam kasus yang terjadi di Persib saat ini, telah diulas dengan begitu menarik dan mencerahkan oleh Mang Ekomaung di Pikiran Rakyat. 

Bahwa terdapat ‘sesuatu’ yang belum selesai dalam manajemen itu sendiri. Terkait dengan keinginan pelibatan mantan pemain untuk pemilihan menurut hemat penulis dirasa kurang tepat. Pemilihan pemain tentunya merupakan domain pelatih yang disesuaikan dengan kebutuhan tim. Dan jika melihat timeing suara-suara para mantan Persib ini tentunya sangat riskan karena justru yang muncul adalah banyak kecurigaan. 


Bagaimana mungkin suara lantang muncul saat Persib hancur lebur di Piala Presiden yang notabene hanya turnamen pra musim dibanding saat Persib begitu menderita sepanjang musim. Apalagi dengan friksi-friksi di manajemen yang mencuat ke permukaan media sosial malah semakin membuat suasana menjadi kurang kondusif. Persib merupakan tim yang penuh dengan nilai, kebanggaan, bersejarah dan punya nama besar. 

Akan sangat disayangkan jika perkara yang mendera urusan internal manajerial berimbas pada upaya penggembosan tim yang saat ini sedang dibentuk. Kepedulian dan keinginan para mantan Persib untuk berkontribusi memang patut diapresiasi namun bukan hal pelibatan pemilihan pemain untuk saat ini. Akan sangat pas jika salah satu atau beberapa dari mantan masuk jajaran manajemen dalam hal ini bisa sebagai Direktur Teknik/Olahraga plus tim scoutingnya. 

Posisi tersebut rasanya selain memang dibutuhkan juga akan bermanfaat untuk Persib kedepannya. Namun semua itu tentu kembali diserahkan pada manajemen. Tapi yang paling penting saat ini adalah menyelesaikan kegaduhan diluar sana yang tidak sedikit bobotoh mencium ada ‘sesuatu’ dalam manajemen. Agar hal-hal non teknis tidak menganggu persiapan Persib untuk mengarungi Liga I nanti. 


Yogi Miftahul Fahmi, bobotoh yang siap bertegur sapa melalui @yogimfahmi




REVA KINARA / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 25 Februari 2018 | 20:16 WIB

    Memahami Makna Pelatih Asing di Persib

  • Jumat, 23 Februari 2018 | 22:53 WIB

    Gomez dan Kutukan Pelatih Asing Persib

  • Rabu, 21 Februari 2018 | 18:03 WIB

    Istilah Kabeh Dulur Kini Hanya Terasa di Laga Away

  • Senin, 19 Februari 2018 | 18:00 WIB

    The Jakmania di Antara Anis dan Ahok

  • Senin, 5 Februari 2018 | 08:20 WIB

    Goong Nabeuh Manéh

  • Minggu, 4 Februari 2018 | 20:32 WIB

    Menimbang Keterlibatan “Mantan” Dalam Manajemen


Iklan Footer