Menikmati Coaching Style dan Pragmatisme Setengah Kosong Mario Gomez

Menikmati Coaching Style dan Pragmatisme Setengah Kosong Mario Gomez

Jumat, 12 Januari 2018 | 22:07 WIB
. Foto : Firman Fauzi
DALAM era sepakbola modern seperti di jaman kiwari, siapapun pasti bisa menilai gaya permainan sebuah tim sepakbola. Generalisasi macam ultra-defensive, Tiki-taka, all-out attack hingga Mipir gawir yang menjadi ciri khas Persib musim lalu.

Can nepi juru mah bawa weh terus, atau asa tunduh Lur lalajona, umpatan-umpatan seperti itu menjadi kebiasaan yang diucapkan Bobotoh, hingga membuat kenyang Djajang Nurjaman, Herrie Setyawan dan Emral Abus.

Pragmatisme Maung Bandung di musim lalu memang terbukti, gameplan yang diterapkan 4 orang yang pernah menukangi Persib di Liga 1 2017 (1 Musim, 2 Pelatih, 2 Caretaker) luar biasa, adalah bagaimana caranya Persib harus menang meski tim ini dibombardir lawan dari berbagai sudut, bagaimana caranya menghindari kesalahan sekecil apapun yang menyebabkan Persib kemasukan, terhindar dari kekalahan ketika lawan lebih mendominasi ball-possesion dan menciptakan banyak peluang, dan menciptakan gol meski deadlock di final third. Kumaha carana weh nu penting meunang, tong kaasupan, bae tunduh ge. Seri di kandang sama dengan kalah, siap Wa.

Ada kesan (yang salah) jika sepakbola pragmatis adalah sepakbola yang bertahan, sementara sepakbola menyerang adalah sepakbola modern yang mempertontonkan seni yang menghibur. Parkir bus menjadi sebuah dosa yang dilakukan oleh tim sepakbola, sedangkan bagi tim yang berusaha membongkar pertahanan lawan yang menerapkan compact defense adalah suatu tindakan heroik.

Karena, menurut apa yang setiap pelatih yakini, mempraktekan gaya permainan bertahan bukan berarti tidak berusaha mengejar kemenangan. Kembali ke paragraf tiga, Kumaha carana weh nu penting meunang, tong kaasupan, bae tunduh ge, memanfaatkan sekecil apapun peluang menjadi sebuah gol, clinical. 

Sama seperti tim yang menerapkan strategi menyerang, mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana memiliki pertahanan yang solid ketika mendapat counter lawan. 

"Tuh tempo PSM, nyerang tuluy, medok oge pan," ucapan yang keluar dari mantan pelatih Persib musim lalu ketika dikritik banyak Bobotoh karena dianggap mempraktekan taktik dan strategi yang membosankan hingga akhirnya mogok bicara kepada awak media.

Tanpa pragmatisme, menurut Dalipin, Editor Senior CNN Indonesia, maka tidak ada yang namanya taktik dan strategi. Kukuh kaku dengan gaya permainan tertentu tanpa variasi dan kelenturan taktik dan strategi adalah paling halusnya kenaifan dan paling kasarnya ketololan. Harus selalu ada rencana A, rencana B dan kalau perlu rencana C dan D dalam menghadapi sebuah pertandingan.

Sama seperti Mario Gomez, pelatih anyar Persib, yang meyakini filosofi jika sepakbola bukan soal bagaimana tim ini dituntut untuk terus menyerang, kita harus memikirkan bagaimana caranya  membangun pertahanan yang kuat. Keseimbangan yang paling penting untuk membangun sebuah tim yang kuat.

"Mungkin kamu punya skema serangan yang bagus tapi tanpa pertahanan yang baik kita tidak akan menang. Kami ingin selalu menang dan selangkah demi selangkah kami ingin wujudkan itu," aku Gomez.

Gomez, dengan segudang CV yang dimilikinya, salah satunya sebagai asisten Hector Cuper ketika membesut Internazionale, menuntut anak asuhnya untuk terus kerja, kerja dan kerja membangun Persib menjadi tim yang kuat. Soal usia, baginya itu hanya persoalan angka, para experience players yang dimiliki Persib, disejajarkan pelatih asal Argentina ini dengan Paolo Maldini, Javier Zanetti dan Gigi Buffon. Ini adalah bagian dari cara Mario Gomez melindungi pemainnya dari 'gempuran' yang dialamatkan kepadanya karena rekrutan Persib dinilai 'Uzur' menurut Bobotoh. Musim lalu, rataan skuad The Golden Era adalah 28,14 Tahun. Skuad tertua di Liga Ojeg Online (Source : Stadion Siliwangi).

Bek senior Persib ini lantas menggambarkan bagaimana metode Gomez dalam hal managerial style, soal pendekatan kepada pemain, man management. Supardi menilai metode kepemimpinan Gomez adalah sesuatu hal yang baru yang dialami dirinya.

"Gomez ini orangnya, lebih ke orang tua, sebelumnya saya gak pernah dapet dari pelatih lain. kalian harus kerja, fight, jangan kalah, itu penekanan yang sangat serius bagi saya, kalian gak mau kerja, satu fight satu gak kerja, habis kita," bebernya.

"Dia seperti orang tua. Satu pemain, dua pemain dia panggil, itu bagus bagi pemain, jadi kita meraasa diperhatikan," lanjut Supardi.

Bagi yang berkeinginan tinggi, Let's work and fight with me, bagi yang tidak sanggup, silahkan balik badan, itu yang ditegaskan Gomez kepada Michael Essien dan Kawanan. 

“Yang terpenting adalah kemenangan disetiap pertandingan, kita lihat prosesnya. Berapapun hasilnya itu. 3-1, 2-1 atau berapapun, yang terpenting kita menang," ucap Gomez usai laga ujicoba Persib melawan PS BP Batam, Kamis (11/1/18).

"Gomez selalu in piece, maksudnya kita harus ada peningkatan, progresnya bisa kita lihat bagaimana kemarin kerjanya anak-anak, fightnya anak-anak, itu hal positifnya yang bisa diambil kemarin. Terlepas dari berapapun hasilnya, saya setuju dengan Gomez. Menang, menang dan menang. Mau setengah kosong, yang penting menang," terang Supardi.

Pragmatisme bukan persoalan pola permainan bertahan ataupun menyerang, tapi bagaimana proses dan hasil akhirnya. Gomez pasti menimbang dan berkreasi dengan apa yang dimiliki skuad Persib saat ini.

Nikmatilah prosesnya, bukankah kalian sudah terbiasa (19 Tahun).

FIRMAN FAUZI / VPC / RED3

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 12 November 2017 | 18:17 WIB

    Persib 2017, Terburuk Sejak Dikendalikan PT PBB

  • Jumat, 3 November 2017 | 10:24 WIB

    Duel Pertahanan Terbaik, Anti Remis Remis Club!

  • Minggu, 29 Oktober 2017 | 21:03 WIB

    Ceuk Mantan, Persib Belum Pede Plus Teu Kompak!


Iklan Footer