Politik Sepakbola: Si Biru dan Drama Ala Mandragola

Politik Sepakbola: Si Biru dan Drama Ala Mandragola

Selasa, 9 Januari 2018 | 20:09 WIB
. Foto: Firman Fauzi

“One must know how to color one's actions and be a great liar and deceiver “


BEGITU kira-kira pandangan Niccolo Machiavelli terhadap manusia yang berperilaku untuk mendapatkan hal yang diinginkan, termasuk politik dan kekuasaan. Ia yang merupakan seorang tokoh politik serta filsuf dari Italia mengungkapkan bahwa seorang laki-laki pada dasarnya penipu, licik, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya terutama dalam mendapatkan kekuatan politik. Hal tersebut setidaknya tersirat dalam buku The Prince tahun 1532 yang kemudian dilanjutkan dengan penulisan karya komedi drama La Mandragola (The Mandrake).

Drama dengan plot waktu 24 jam tersebut terbagi dalam 5 aksi/bagian didalamnya. Secara garis besar, isi dari drama penuh sarkasme terhadap kekuasaan di Florentine tersebut sebenarnya sederhana. Callimaco mencintai Lucrezia, wanita cantik yang merupakan istri dari seorang hakim dan penguasa di wilayahnya yaitu Nicia. Alhasil ia melakukan segala cara untuk bisa meniduri perempuan tersebut. Termasuk melakukan tipu daya serta menggunakan kemampuan temannya Ligurio, Siro, serta Friar yang dijadikan “alat” dalam memenuhi keinginannya.

Jika mengkaitkan La Mandragola dengan bagaimana perilaku manusia sekarang di dalam berpolitik, memang plot yang diberikan oleh Machiavelli tidak termakan waktu. Memang pada dasarnya manusia berpolitik dan (kadang kala) memanfaatkan keinginan orang lain
untuk mencapai tujuan berpolitik tersebut. Bahkan tokoh karakter Callimaco merepresentasikan kelihaian seseorang dalam memerintah, mencapai serta melakukan konsolidasi terhadap kondisi sosial yang ada.

Terlepas cara yang dilakukan salah-benar atau baik-buruk; penggunaan alat politik juga tidak hanya melekat pada sistem politik tetapi juga menyebar pada sistem sosial yang ada. Sepakbola sebagai salah satu olahraga dengan struktur sosial yang sangat kuat, menjadi
salah satu sasaran.


Si Biru dan Titipan Politik
Sebuah pengantar di atas setidaknya merujuk pada fenomena yang sedang terjadi. Seperti De Ja Vu, kini si Biru merasakan bagaimana politik mulai bercampur aduk dengan sepakbola. Lebih parah lagi, berbagai keputusan mengenai siapa yang layak mengenakan jersey kebanggaan dijadikan bahan tunggangan beberapa pemangku kepentingan dalam melaksanakan hak berpolitik-nya.

Hal tersebut bermuasal dari perekrutan pemain yang sebenarnya tidak sesuai kriteria dan kebutuhan tim sebesar Persib Bandung. Diawali dengan perekrutan Eka Ramdani yang mengejutkan banyak pihak, lalu diikuti dengan kedatangan Patrich Wanggai serta Airlangga Sutjipto ke dalam tim.

Jika gimmick 'Pengalaman' dan embel-embel 'Sosok seperti Firman Utina' masih bisa ditolelir, tapi tidak dengan alasan kebutuhan teknis tim. Ebol bukanlah ebol ketika ia memperkuat Persib Bandung 17 tahun silam. Umurnya sudah hampir melewati masa keemasan, dan tidak sejalan dengan konsep jangka panjang yang dipaparkan Mario Gomez sebagai pelatih.

Apalagi dengan kehadiran Patrich Wanggai dan apa yang pernah ia lakukan terhadap bobotoh (Baca: Gesture Jari Tengah). Hanya satu gol yang ia ciptakan dari 24 penampilan selama gelaran Liga 1 musim lalu. Entah apa yang menjadi dasar penilaian pemain, tak ada yang dapat memberikan pembelaan terhadap perekrutan ini. Meski pada akhirnya Wanggai tidak jadi bergabung, tetaplah keputusan untuk melabuhkan pengharapan mencetak gol pada dirinya harus dipertanyakan.

Puncak kejanggalan dari berbagai spekulasi mengenai 'Tunggangan Politik' terjadi ketika perekrutan Airlangga Sutjipto yang juga kembali merajut asa dengan tim yang ia bela sejak 2008 sampai dengan 2013. Tanpa meragukan kredibilitas serta kualitasnya, umur yang sudah menginjak 32 tahun serta performa yang sebenarnya meragukan pada beberapa musim terakhir menjadi alasan. Beredar selentingan bahwa perekrutan tersebut hanya menjadi salah satu bahan agenda politik seseorang.


Merunut dari tiga nama diatas cukup bisa dimengerti oleh nalar, mengingat mereka setidaknya memiliki popularitas (Baca : Klub Sepakbola Bentukan Artis-artis Bandung) serta eksistensi di persepakbolaan Indonesia. Apalagi untuk Ebol dan Airlangga yang memiliki kedekatan emosional terhadap klub yang berdiri ditanah Pasundan ini bisa dijadikan salah satu senjata —bagi entah siapapun yang menjadi dalang— untuk mendapatkan empati dari masyarakat yang menjadi salah satu target dari pemenangan kekuasaan.

Semua keputusan-keputusan itu mengerucut pada isu dimana perekrutan tersebut hanya dijadikan alat dalam perebuatan kekuasaan pangsa politik. Entah siapa yang menunggangi dan ditunggangi, ataupun siapa yang melakukan barter promo, politik memang erat kaitannya dengan klub sepakbola. Boleh diingat, Persib Bandung sendiri sudah cukup kenyang dengan pengalaman seperti ini. Salah satunya terjadi pada diri Sergio Van Dijk yang harus rela menjadi 'alat' pada salah satu ajang pemilihan kepala daerah di Bandung. Ketimbang harus melakukan perjalanan ke kota macam Assen, Amsterdam, ataupun Den Hag; ia harus mendatangi Cigondewah demi meramaikan ambisi kekuasaan politik pada beberapa tahun silam.

Ketika kesebelasan ini masih mengandalkan dana APBD, acapkali klub yang lahir di tahun 1933 ini dijadikan simbol politik baru. Keberadaannya sering digunakan kepentingan-kepentingan bagi para penguasa daerah yang pada saat itu biasanya berada pada jajaran
direksi Persib Bandung. Dan sepertinya tak perlu disebutkan hal-hal lain yang menyangkut fenomena ini, cukup menjadi renungan empiris bagi sepakbola serta politik.

Lagi, politik dan sepakbola merupakan contoh hal yang tidak bisa dicampur-adukan meski bisa saling berdampingan. Penggunaan sebuah organisasi (keolahragaan) untuk mencapai tujuan politik bukanlah hal yang pertama kali dan lumrah di berbagai belahan dunia. Ada yang didasari oleh faktor sejarah, kekuatan dan bahkan bagi pengerukan kekuasaan.


Bahkan manusia sendiri memiliki hak politik dalam berkehidupan, sehingga dijadikan alasan tersendiri jika pada akhirnya harus mengaitkan sepakbola dengan politik. Tetapi bagaimanapun sepakbola harus tetap dijauhkan dari alasan-alasan serta jangkauan politis. Nilai-nilai utama dalam olahraga itu sendiri akan hilang dengan sendirinya jika setiap kebijakan dipengaruhi kekuasaan dan kekuatan. Selain itu, sepakbola yang identik dengan kelas pekerja tak akan pernah sinkron dengan politik yang identik dengan kelas atas (borjuis).

Machiavelli telah mengajarkan bagaimana perilaku seorang manusia di dalam tatanan sosial yang ada demi mendapatkan apa yang diinginkan. Jika menganalogikan perlakuan Callimaco yang memanfaatkan Ligurio, Friar, serta Siro; dengan fenomena yang disebutkan diatas memiliki kesamaan plot. Sama-sama memanfaatkan sesuatu hanya sebagai alat kepuasan demi tujuan yang dicapai. Jika tujuan Callimaco hanya demi meniduri Lucrezia, para 'Callimaco' didunia sepakbola menginginkan kekuasaan berkedok dengan fanatisme semu klub kebanggaan.

Dan pada akhirnya, jangan menjadi Nicia yang terlalu bodoh untuk membiarkan Callimaco melakukan tipu daya serta muslihat terhadap istrinya. Jika Anda bisa mengontrol Persib, maka Anda sudah setengah jalan untuk mengendalikan Bandung dan Jawa Barat.


Penulis, Reva Bagja Andriana. Mahasiswa Universitas Padjadjaran, mencintai sepakbola dengan segala kekurangannya, Bisa dijumpai di akun Twitter @revacore.





FIRMAN FAUZI / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 30 Desember 2017 | 17:51 WIB

    Menagih Janji 'Fasilitas' Bos Glenn Sugita

  • Senin, 13 November 2017 | 08:40 WIB

    Bangkit Sib! Maneh Maung Lain Ucing Anggora

  • Minggu, 12 November 2017 | 02:24 WIB

    Sabda Rindu Tony Sucipto, Achmad Jufriyanto dan Kita

  • Rabu, 1 November 2017 | 10:50 WIB

    Andai WHU Mundur Sebagai Manajer

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 21:52 WIB

    Surat Terbuka untuk Manajemen Persib


Iklan Footer