Tak Ada Yang Lebih Tabah Menjadi Bobotoh di Tahun 2017

Tak Ada Yang Lebih Tabah Menjadi Bobotoh di Tahun 2017

Selasa, 31 Oktober 2017 | 17:12 WIB

MENURUT Sapardi Djoko Damono, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, tapi bagiku, tak ada yang lebih tabah menjadi bobotoh di tahun 2017. 


Rentetan hasil minor, skema permainan yang tak jelas, management yang ngakunya professional tapi tidak, posisi klasemen yang tak selayaknya kau tempati, dan segala dagelan yang kau pertontonkan menjadi bahan cibiran. Kurang tabah apalagi menjadi bobotoh di tahun 2017?

Hey, Sib, aku ingin seperti apa yang pernah Sapardi Djoko Damono tuliskan dalam salah satu puisi termahsyurnya, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”.

Nyatanya, sulit untuk mencintaimu secara sederhana, sesederhana itu. Aku ingin bersikap biasa saja melihat segala hasil minor yang kamu raih, tapi aku gagal. Aku selalu merasa tak nyaman dengan segala hasil minor yang kau raih. Sialnya, aku selalu mengharapkan ada perubahan di pertandingan selanjutnya, hasilnya? Kau hanya merepetisi permainanmu yang stagnan nan membosankan. Kurang tabah apalagi menjadi bobotoh di tahun 2017?

Tawa lepas selepas pertandingan, kebahagiaan akan hasil pertandingan, kenikmatan menikmati suguhan permainan ciamikmu, sikap optimis menghadapi pertandingan selanjutnya, genap sudah kau renggut dari kami, sib. Sebagai gantinya, kau tukar semua dengan hasil yang kurang menyenangkan. Kau ganti semua kebahagiaan kami dengan semua omong kosong bertajuk “Golden Era”. Lagi, sialnya, aku berharap ada perubahan, hasilnya? Ah sudahlah. Kurang tabah apalagi menjadi bobotoh di tahun 2017?

Semakin hari, sikap management tidak dimengerti. Bukan karena kita tidak benar-benar tak mengerti, tapi karena management yang memilih sulit untuk dimengerti. Perlakuan dan kelakuan kalian pun sungguh jika kata jijik terlalu menyakiti, akan kugunakan kata “geli”. 

Kalian perah kami dengan harga tiket yang semakin tinggi, apa yang kami dapat? Permintaan maaf selepas pertandingan dan kalian kerap melakukan kebodohan yang sama, berulang kali. Ingat, PERSIB itu maung, bukan keledai. Dan lagi kata maaf tak selalu menyembuhkan. Kurang tabah apalagi menjadi bobotoh di tahun 2017?

Purna sudah kau jadikan kami bak pujangga pesakitan. Di awal, katamu, akan kau jadikan tahun ini, tahun kita yang menyenangkan. Katamu, lagi, tahun ini kau janjikan kemenangan. Sialnya, lagi dan lagi, aku dibuat, untuk menggambarkan perasaan ini pun sulit menemukan padanan kata yang pas, ah betul-betul badjingan. Kamu, ciderai janji, luka belum terobati, kata efek rumah kaca di salah satu lagu mereka. 

Sungguh, kami sepatutnya marah, kecewa, atas apa yang kamu torehkan. Tapi  apa yang bisa diperbuat oleh sang pujangga pesakitan ini? Yang menyebalkan dari seorang pujangga pesakitan adalah sudahlah ia susah menenangkan rindu ditambah pula dipaksa menelan pahitnya kekecewaan. Lalu, kurang tabah apalagi menjadi bobotoh di tahun 2017? 


@MuqodimahRA





FIRMAN FAUZI / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 13 November 2017 | 08:40 WIB

    Bangkit Sib! Maneh Maung Lain Ucing Anggora

  • Minggu, 12 November 2017 | 02:24 WIB

    Sabda Rindu Tony Sucipto, Achmad Jufriyanto dan Kita

  • Rabu, 1 November 2017 | 10:50 WIB

    Andai WHU Mundur Sebagai Manajer

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 21:52 WIB

    Surat Terbuka untuk Manajemen Persib

  • Selasa, 24 Oktober 2017 | 20:16 WIB

    Uwa, Naha Persib Jadi Kieu?

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:09 WIB

    Kami Persib Sampai Mati, Anda Persib Sampai Habis Kontrak

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 11:38 WIB

    Surat Kaleng Virtual untuk Manajemen


Iklan Footer