Uang Tidak Akan Bisa Membeli Sejarah, Kita Pernah Berjaya!

Uang Tidak Akan Bisa Membeli Sejarah, Kita Pernah Berjaya!

Selasa, 10 Oktober 2017 | 19:11 WIB
BERBICARA soal sejarah sepakbola Indonesia, akan selalu ada nama Persib dalam setiap perjalanannya. Sampai tahun 2017 ini, Persib sudah 84 tahun mengarungi kancah persepakbolaan nasional. 

Tentu sudah banyak prestasi yang dibukukan Persib. Dimulai dari bergabung menjadi alat perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dari jajahan kolonialisme, sampai era sepakbola yang lebih modern dan profesional seperti saat ini. Persib selalu hadir mewarnai kancah persepakbolaan nasional. 

Sejak tahun 2008, permengbalan Indonesia saat itu memasuki babak baru, klub-klub profesional harus melengkapi diri dalam lima aspek, yaitu legal, sporting, insfrastruktur, administrasi, personil, serta keuangan. 

Digulirkannya gagasan ini membuat semua klub berbenah diri, berproses transisi menuju sepakbola modern. Tak terkecuali Persib, meski tak pernah bisa menghilangkan ciri primordialiasmenya. Namun tak sedikit pula klub yang kelabakan, ini menunjukkan betapa banyak klub eks perserikatan yang sangat bergantung ke APBD. 

Mulai lah muncul klub-klub hasil peleburan dua klub karena keterbasan anggaran. Mulai Pusamania Borneo FC, Bali United, PS TNI, dan Bhayangkara FC. Hadir mewarnai liga 1 ini. Sepakbola industri mulai menunjukkan eksistensinya, siapa yang jeli melihat peluang maka akan semakin berkembang, dan banyak yang berspekulasi, dengan menuding PBFC hanya memanfaatkan sikap gede ambek bobotoh di media sosial untuk branding mereka. 

Mereka kerap melakukan sensasi itu. Dan sangat disayangkan apa yang dilakukan mereka justru berhasil membuat sebagian bobotoh di lini massa terpancing membalas provokasi dari mereka. Saling ejek alias twitwar pun tak terhindarkan. Dari mulai ocehan Iwan Setiawan jelang leg pertama 8 besar Piala Presiden di Stadion Segiri Samarinda, aksi Diego Michels yang menantang bobotoh lewat tulisan "buktikan kalian supporter terbalik lah" yang diunggah melalui akun instagram-nya. 

Sampai yang terakhir striker anyar mereka dengan menuding Persib tak berani bertanding padahal fakta yang terjadi justru karena ulah dari mereka sendiri. Kalian bisa melihat menjelang lawan PBFC belakangan lini massa selalu diwarnai silang pendapat antara kedua supporter, tapi apa yang terjadi di lapangan justru biasa saja, jauh dari apa yang dilihat dari kacamata jagad maya. 


Kebetulan saya bersama teman-teman waktu itu Dhea Lukman dan Adit yang memang sengaja berangkat dari Bandung untuk menonton langsung ke Samarinda pada leg pertama semifinal Piala Presiden maret lalu. Meski sempat terjadi ketegangan dengan petugas pintu masuk tribun, itupun karena kesalahan saya karena kedapatan membawa teh hangat khas Bandung racikan Dhea alias Beller ke tribun stadion segiri. Hehehe. 

Kembali soal Persib, klub dengan catatan sejarah panjang dan puluhan tropi sudah diraihnya, tidak elok rasanya jika dibandingkan dengan tim-tim yang baru bermunculan tersebut. Silahkan googling sejarah Persib di gadget anda, tentu akan muncul data dan fakta sejarah Persib dari masa ke masa. 

Maxim gorki pernah menulis dalam artikelnya culture and people; the people must know their history! Sejarah tidak hanya berlaku sebagai masa lalu, tapi juga meliputi sejarah sekarang, dan sejarah yang akan datang. Kita harus tau posisinya dimana sekarang serta apa yang telah terjadi di masa lalu. 

Begitu bernuansanya kultur sepakbola Bandug sejak lama sampai supporternya sendiri menggagas budaya literasi, sebelum memasuki era digital, dengan terbitnya media cetak Make Manah yang menjadi majalah resmi Viking Persib Club saat itu, di setiap edisinya selalu ada ruang untuk jadi bahan diskusi para The Vikers remaja seperti saya. 

Lainnya saya pernah melihat Zine teman-teman dari Viking Unpas dikisaran taun 2010-an yang seluruh pengelolaan redaksi hingga operasionalnya dikelola barudak Viking Unpas sendiri. ( btw, hwd Arif dan Fifi, pasangan Viking Unpas yang kemaren menggelar pernikahan). Juga zine temen-teman bobotoh Casuals pada tahun 2013-an.


Belum kegiatan literasi lainnya yang mungkin saya tidak / belum tahu. Saya kira hal ini cukup menegaskan bagaimana hegemoni sepakbola Bandung terhadap publik. Untuk itu, saya harap kepada teman-teman bobotoh yang masih sering reaktif terhadap sikap provokatif dari tim/supportter lain yang muncul di jagad maya, agar lebih menahan diri menyikapinya. 

Saya kira, dengan mengabaikan provokasi tim/supporter lain tidak akan membuat marwah kalian sebagai bobotoh Pangpersibna luntur, justru sikap "rewel" dari teman-teman Viking Frontline dan sebagian bobotoh lainnya terhadap manajemen sendiri juga merupakan bentuk mencintai dengan cara lain, meskipun sering bertolak pandangan dengan bobotoh kebanyakan, mengkritisi kesalahan manejemen tim kebanggaan sendiri saya kira lebih rasional daripada menghabiskan waktu melayani provokasi tim/ supporter lain yang tak pernah merasakan kegetiran atas rasa kecewa, cinta, dan kehilangan tropi dalam adu penalti di final 1983' dan 1985'. 

Juga alkisah seorang rekan asal Banjaran yang menjual televisi 14inc kesayangannya agar bisa berangkat ke solo untuk menonton langsung pertandingan Persib di babak play off 2003. Tidak sulit untuk memahami bagaimana perasaan beberapa rekan saya yang menangis histeris di Tribun Timur Std Krakatau Steel Cilegon setelah Persib dipastikan gagal di partai "hidup mati" dalam merebutkan jatah menuju 8 besar, usai (di)kalah(kan) Pelita Jaya pada kompetisi Liga Indonesia XIII 2007.

Mungkin atas nama kecintaan juga yang mendasari rekan saya dari Viking Jakarta, Adit dan Reza tak bisa menahan amarahnya memaki-maki coach Darko Djanakovic di luar ruang ganti Stadion Jakabaring usai kalah telak atas Sriwijaya FC 6-0 di turnamen Inter Island Cup 2010.

Juga air mata kebahagiaan puluhan ribu bobotoh yang menyerbu Palembang sesaat Achmad Jufriyanto sukses menendang eksekusi penalti terakhir ke gawang Dede Sulaeman menggenapkan asa publik Bandung dalam penantian selama 19tahun. Percayalah, uang tidak akan (pernah) bisa membeli sejarah, dan kita pernah dan (akan) berjaya (kembali)!  


Penulis, Yogi Esa Sukma Nugraha, berakun Twitter @sukmanugraha55




FIRMAN FAUZI / VPC / RED1

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 13 November 2017 | 08:40 WIB

    Bangkit Sib! Maneh Maung Lain Ucing Anggora

  • Minggu, 12 November 2017 | 02:24 WIB

    Sabda Rindu Tony Sucipto, Achmad Jufriyanto dan Kita

  • Rabu, 1 November 2017 | 10:50 WIB

    Andai WHU Mundur Sebagai Manajer

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 21:52 WIB

    Surat Terbuka untuk Manajemen Persib

  • Selasa, 24 Oktober 2017 | 20:16 WIB

    Uwa, Naha Persib Jadi Kieu?

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:09 WIB

    Kami Persib Sampai Mati, Anda Persib Sampai Habis Kontrak

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 11:38 WIB

    Surat Kaleng Virtual untuk Manajemen


Iklan Footer