Ini Kronologi Bobotoh Dipukuli Aparat Di Laga Persib vs Arema

ijot

TIGA orang suporter Persib Bandung harus mendapat perawatan medis setelah babak belur dihajar oknum polisi saat pertandingan Persib melawan Arema Cronus di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/8/2016) malam.

Riky Iswanto (25), salah seorang korban terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Soreang lantaran mengalami luka sobek dan lebam di bagian mata kiri susai dihajar polisi dengan pentungan.

Dia mengatakan, kontak fisik antara polisi dan Bobotoh (sebutan suporter Persib) dipicu hal sepele, yakni gara-gara bendera.

Dia menceritakan, insiden bermula sewaktu polisi melarang Bobotoh menggunakan material kayu untuk membuat koreografi. Semula, Viking Boys yang berada di tribun timur telah menyiapkan 5.000 bendera yang diikat dalam sepotong kayu kecil.

Aksi koreografi yang disiapkan pun gagal digelar lantaran mendapat peringatan polisi. Material kayu dilarang masuk stadion, Bobotoh pun akhirnya sepakat mengumpulkan seluruh bendera kepada pihak kepolisian di lorong atas tribun timur.

Namun, selepas jeda turun minum, Bobotoh berinisiatif mengambil kembali bendera tanpa kayu agar koreografi yang sudah dirancang tetap bisa dinikmati penonton.

Rencana itu pun mendapat izin dari polisi. Namun, karena jumlah bendera cukup banyak sehingga harus melibatkan banyak Bobotoh untuk melepas ikatan bendera dari kayu.

Melihat situasi yang cukup riuh, anggota Dalmas Polres Bandung yang berada di luar stadion langsung bersikap reaktif.

“Mereka mengira kita lagi ribut padahal cuma ambil bendera. Nah, saat itu sempat adu mulut sama Bobotoh. Saya berusaha buat melerai, tapi tiba-tiba dari arah samping saya dipukul,” ujar Riky dilansir Kompas.com, Sabtu (27/8/2016).

Seusai terkena pukulan, Riki langsung ambruk dan tak bisa melihat. Perlakuan kasar anggota polisi mendapat reaksi keras dari Bobotoh. Ichsan Saepudin (24), salah seorang korban lain, mengaku sempat memberi perlawanan lantaran polisi terus melontarkan pukulan.

“Saya bilang kenapa harus cara kekerasan seperti ini. Saya malah ikut dipukul, kepala saya benjol dan luka gores di bagian tangan. Ada korban lain teman saya namanya Tispan Darmanto dia pipinya sobek ,” ucapnya.

Menyikapi insiden tersebut, Agus Rahmat, salah seorang pentolan Viking menyayangkan sikap represif yang dilakukan aparat kepolisian.

“Seharusnya sebagai aparat bisa melindungi dan mengamankan, bukan malah membuat ada korban, saya sangat prihatin. Walaupun korbannya tidak berat, tapi tetap ada kerugian,” tukasnya. (dede idrus/vpc)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

/*dink google analytic*/ /*dink google analytic*/