Mengenal Sosok Alm Ayi Beutik dan Sejarah Viking Persib Club

BOBOTOH khususnya para anggot Viking Persib Klub (PVC) tentu ingin tahu bagaimana kelompok suporter terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara ini didirikan. Simak perjalannya di sini.

Ayi Beutik

Siapa tak kenal Ayi Beutik? Terutama para pecinta sepak bola di Bandung. Pria yang bernama asli Ayi Suparman ini merupakan salah seorang pendiri dan pimpinan tertinggi Viking Persib Club (VPC), yaitu sebuah perkumpulan suporter klub sepak bola asal Kota Bandung, Persib. Para suporter yang lebih dikenal dengan sebutan “bobotoh” ini terkenal fanatik dan rela melakukan tindakan anarkis demi membela tim kesayangannya.

Ada orang yang bertanya mengapa nama Ayi Suparman diubah menjadi Ayi Beutik. Ternyata jawabannya sangat sederhana. Konon ketika dia masih kecil, ada bapak-bapak yang bertubuh tinggi besar. Ketika dia beranjak dewasa tubuhnya seperti bapak-bapak tersebut sehingga dipanggil Beutik. Sejak saat itulah orang lebih mengenalnya sebagai Ayi Beutik.

Dalam setiap pertandingan Persib, Ayi Beutik selalu berada di garda terdepan dalam memimpin para bobotoh untuk mendukung tim kesayangannya. Sosoknya pemberani dan sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan. Kecintaannya terhadap persib tidak perlu diragukan lagi. Dia rela ditahan demi membela kelakuan anggotanya yang terkadang kelewat batas sehingga melakukan tindakan kriminal yang merugikan orang lain. Oleh sebab itu dia mendapat julukan sebagai Panglima Viking oleh bobotoh Persib.

Bapak para bobotoh ini yang selama hidupnya belum pernah sekalipun membeli tiket untuk menonton setiap pertandingan sepakbola. Dia selalu punya caranya sendiri untuk bisa menonton, misalnya dengan cara memanjat tembok. Apapun dilakukannya demi sepak bola. Dalam mendukung timnya, dia selalu berpenampilan nyentrik termasuk model rambutnya meniru gaya Indian Mohawk. Ciri khas lainnya adalah teriakan-teriaknnya yang membuat suasana stadion menjadi semakin hidup.

Pria kelahiran 1968 yang memiliki hobi menonton sepak bola, musik dan memanjat tebing ini merupakan lulusan Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Sesuai dengan background keilmuannya, dia bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Asing pada bagian pemetaan. Oleh sebab itu tidak heran jika dia sangat mengenal berbagai daerah di Indonesia.

Ayi Beutik menikah dengan Nia Dasmawati, seorang guru SD yang sangat dicintainya pada usia 37 tahun. Pernikahan mereka membuahkan dua orang anak yang diberi nama Jayalah Persibku dan Usab Perning. Nama yang unik tersebut diberikan pada kedua anaknya sebagai bukti kecintaannya terhadap Persib.

 

Asal Mula Nama Viking

Siapa yang tidak mengenal nama Viking ? Banyak orang mengenal Viking sebagai bangsa yang kuat dan brutal. Ciri khas tentara Viking adalah bertubuh besar tinggi, bertubuh kekar, berambut panjang, brewokan (berkumis dan berjanggut lebat) disertai tatapan mata yang tajam dan berwajah bringas. Mereka biasanya menggunakan perahu yang dilengkapi dengan peralatan tempur seperti helm yang terbuat dari logam dan kulit yang memiliki pelindung mata, spatu kulit yang tinggi, tameng (perisai) serta senjata berupa pedang, tombak dan kapak.

Bangsa Viking berasal dari Skandinavia, suatu daerah yang beriklim dingin. Walau orang mengenal mereka dengan sebutan Viking, namun mereka menyebut dirinya Norse atau Norsesman yang artinya manusia-manusia dari Utara. Bangsa Perancis justru menyebut mereka dengan julukan Normandian, sedangkan orang-orang Slavia dan penduduk Rusia menyebutnya Varangia. Padahal, Viking sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kota tua yaitu Vik yang sekarang masuk ke dalam wilayah Norwegia.

Pada umumnya mereka menggantungkan hidupnya dari usaha perdagangan dan pertanian. Suatu saat mereka ini bisa berubah menjadi sekelompok orang yang bertindak brutal dan sadis dengan melakukan perampokan dan penjarahan terhadap setiap kapal dagang yang ada di sekitar wilayah mereka. Tidak jarang mereka juga melakukan ekspansi jarahannya sampai ke daerah Mediterania.

Perbuatan bangsa Viking yang sering menyerang dan merampok daerah pesisir pantai Barat Laut Eropa dengan kapal perang mereka yang panjang, telah menjadi momok yang sangat menakutkan. Mereka biasanya melakukan serangan secara mendadak dan cepat terhadap berbagai sasaran yang sudah ditargetkannya, sehingga menimbulkan efek kejut yang tak terduga serta menimbulkan jejak kehancuran yang luar biasa. Mereka membunuh apa saja yang bisa dibunuh, tidak peduli wanita, anak-anak maupun orang tua. Semuanya disikat habis, dihancurkan sehingga menimbulkan efek psikologis, trauma rasa takut yang luar biasa bagi siapa saja yang menyaksikan akibat aksi biadab mereka.

Dalam setiap serangan di darat, pasukan Viking biasanya dipimpin oleh seorang panglima perang yang menggunakan kuda. Serangan awal dilakukan oleh pasukan khusus bernama berserker, yaitu sebuah pasukan pengejut yang bisa bergerak dengan cepat dan brutal. Keperkasaan pasukan Viking yang selalu menang dalam pertempuran membuat mereka semakin percaya diri dan mabuk dengan kekuasaan. Mereka terus bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya di daratan Eropa. Satu persatu wilayah Eropa mereka taklukkan. Bahkan dalam catatan sejarah bangsa Eropa, periode 790 dan 1050 SM dikenal sebagai Era Viking.

 

Persib

Asal Mula Nama Persib

Persib sendiri merupakan nama sebuah klub sepakbola terkenal asal Bandung, Jawa Barat. Kata Persib sendiri merupakan singkatan dari Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung. Jauh sebelum nama Persib dikenal, di kota Bandung pada 1923 telah lahir sebuah klub sepak bola dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond atau disngkat BIVB. Klub ini awalnya di pimpin oleh Mr. Syamsudin, lalu dilanjutkan dengan R. Atot yang merupakan putra dari R. Dewi Sartika.

Sayangnya BIVB tidak berumur panjang, sempat vakum dan akhirnya menghilang tanpa jejak. Lalu muncul klub sepak bola baru dengan nama Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada 14 Maret 1933, Kedua klub itu bersepakat melakukan merger dan kemudian mendirikan klub baru dengan nama Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung, di singkat Persib. Saat itu terpilih sebagai Ketua Umum pertamanya adalah Anwar St. Pamoentjak. Beberapa klub lainnya seperti SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi akhirnya turut juga bergabung ke dalam Persib.

Pada masa penjajahan Jepang, semua kegiatan persepakbolaan di tanah air yang berada di bawah sebuah organisasi dilarang dan dibredel keberadaanya. Persib pun termasuk yang terkena dampaknya, sehingga sempat mengalami masa vakum kembali. Sebagai gantinya, berdiri perkumpulan olah raga baru bentukan Jepang yang diberi nama Rengo Tai Iku Kai.

Kemudian setelah Indonesia Merdeka, yaitu pada masa revolusi fisik, Persib kembali hadir. Namun Persib saat itu tersebar di berbagai kota di Jawa Barat, seperti di Bandung, Tasikmalaya dan Sumedang. Bahkan ada juga yang mendirikan Persib di Jogjakarta, yaitu pada saat prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke Jogjakarta.

Persib kembali berdiri dan eksis pada 1948 atas upaya dokter Musa, Munadi, H.Alexa dan Rd. Sugeng. Saat itu terpilih Munadi sebagai ketuanya. Meskipun mendapat tekanan dari Belanda (Tentara NICA), yang mengupayakan membangkitkan VBBO kembali dengan memakai nama Indonesia, namun upaya tersebut tidak berhasil. Persib yang semula sempat terpecah belah akhirnya berhasil disatukan kembali dengan dilandasi semangat nasionalisme, sehingga di Bandung saat itu cuma ada satu Persib.

Sejarah mencatat, pada periode 1953-1957, Persib mulai memiliki sekretariat permanen. Wali Kota Bandung saat itu, R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Kemudian atas upaya R. Soendoro, sekretariat Persib dipindahkan ke Jalan Gurame sampai sekarang.

Sebagai salah satu klub sepak bola terbaik di tanah air, Persib cukup berperan dalam menyumbang tim nasional kita, baik di tingkat yunior maupun senior. Tercatat beberapa nama pemain Persib yang pernah memperkuat tim nasional, seperti : Yusuf Bachtiar, Robby Darwis, Risnandar Soendoro, Dadang Kurnia, Nandar Iskandar, Heri Kiswanto, Adeng Hudaya, Ajat Sudrajat, Budiman, Nur’alim, Yaris Riyadi sampai generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani. Hingga sekarang Persib Bandung merupakan klub sepak bola kebanggaan Indonesia yang sudah menjadi aset nasional.

 

Viking

Sejarah Berdirinya Viking Persib Club (VPC)

Viking Persib Club (VPC) resmi didirikan pada 17 Juni 1993 di Kota Bandung dengan enam orang gegedug selain Ayi Butik, juga Mulyana (Yana Bool), Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, Heru Joko, dan Aris Primat. Pada saat itu timbul gagasan dari Ayi Beutik untuk mempersatukan para bobotoh Persib yang biasa menonton di tribun Selatan ke dalam sebuah organisasi yang solid.

Lantas dia mengundang keenam tokoh bobotoh dari berbagai tempat itu untuk berkumpul dikediamannya di daerah Pasir Luyu. Mereka berembuk untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah yang disebut Viking Persib Club (VPC) atau biasa disebut Viking saja.

Jatuhnya pilihan nama Viking bukan tanpa alasan. Viking merupakan nama legendaris dari sebuah bangsa yang terkenal kuat, buas, berani, pantang menyerah, penuh percaya diri, berjiwa penakluk dan suka menyerang. Mungkin para pendiri VPC ingin memberikan ruh kepada para bobotoh agar selalu tampil mendukung tim favoritnya, layaknya pasukan Viking yang melegenda tersebut (baca : Asal Mula Nama Viking). Oleh sebab itu para bobotoh selalu menyematkan slogan mereka yang terkenal “Persib Sang Penakluk” pada setiap atribut yang mereka miliki.

Pada awalnya, jumlah anggota Viking itu cuma sedikit yaitu sekitar 50 orang. Meskipun jumlahnya sedikit namun gaungnya luar biasa. Mereka adalah sekumpulan fans fanatik Persib yang bisa dibilang beraliran keras. Jika ada wasit yang mereka rasakan bertindak tidak adil, mereka langsung berteriak dan turun ke lapangan. Mereka tidak gentar meskipun dihalangi oleh aparat keamanan. Oleh sebab itu tidak heran bila mereka sering bentrok dengan polisi atau tentara, bahkan sampai sampai terlibat perkelahian.

Tindakan berani dan sedikit radikal para bobotoh ini lama-lama menarik perhatian banyak pihak. Satu persatu bobotoh lainnya ikut bergabung ke Viking. Semakin lama semakin banyak anggotanya dan terus cepat menyebar bagaikan virus, hingga akhirnya anggotanya mencapai puluhan ribu orang.

Dulu, salah satu persyaratan untuk menjadi anggota VPC adalah harus berkelahi. Misalnya para calon anggota Viking sedang bertandang ke Jakarta untuk menonton pertandingan sepak bola. Maka sesampainya di stadion Lebak Bulus, calon anggota baru tersebut harus mencari alasan untuk berkelahi dengan suporter lawan. Bahkan kalau bisa sampai lawannya pingsan. Efeknya ternyata dahsyat. Banyak anak muda yang tertarik, terutama dari aliran garis keras, sehingga anggotanya berkembang pesat.

Kini persyaratannya sudah berubah, tidak radikal seperti dulu karena banyak juga kaum wanita dan anak kecil yang masuk jadi anggota. Kalau mau jadi anggota VPC, syaratnya harus pernah nonton dulu ke lawan, misalnya nonton ke Tanggerang, baru boleh mendapatkan kartu anggota.

Menurut Ayi, secara formal sebenarnya VPC tidak memiliki badan hukum, namun secara de fakto, keberadaanya diakui. Bahkan struktur organisasi, AD/ART atau aturan tata tertibnya di VPC tidak jelas, atau boleh dibilang organisasinya gaya koboi. Aturan yang ada cukup sederhana. Kalau ada anggota yang berbuat macam-macam, pukul saja, beres urusan.

Seperti yang dikutip dari situs http://kaskus.co.id, saat ini jumlah suporter Persib merupakan yang terbesar di Indonesia. Jumlah anggota Viking ini juga menempati urutan ke 10 terbanyak di dunia dan terbesar se Asia, mengalahkan jumlah suporter Ultras Samurai Biru (Gamba Osaka) dan Urawa Reds dari Jepang.

 

Persib Musuh Bebuyutan Persija

Semua orang tahu kalau hubungan antara suporter Persib dan Persija tidak akur. Entah sudah berapa kali duanya bentrok, adu fisik yang sempat menimbulkan banyak korban. Bahkan mantan Gubernur DKI Sutiyoso pernah bermaksud mendamaikan perseteruan kedua kubu tersebut, namun upayanya itu tidak juga berhasil.

Menurut informasi yang bersumber dari situs http://dimastereo.blogspot.com, perseteruan antara bobotoh Persib dan Jackmania sudah berlangsung sejak tahun 2000, tepat disaat Liga Indonesia 6 berlangsung. Pada putaran pertama pertandingan, terdapat sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus yang masuk ke Tribun Timur. Saat itu bobotoh Persib yang bertandang terdiri dari beberapa komunitas, seperti : Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking, dan lain-lain.

Pada masa itu komunitas yang paling banyak anggotanya adalah Balad Persib. Meskipun situasi saat itu terbilang cukup panas dan hampir terjadi bentrokan dengan Jackmania, namun akhirnya bisa diredam. Bahkan antara bobotoh Persib dan Jackmania saling berjabat tangan.

Usai pertandingan, rombongan bobotoh Persib didampingi Jackmania menuju bus sambil bersama-sama menyanyikan lagu “Halo Halo Bandung”. Penerimaan Jackmania yang begitu bersahabat tersebut membuat bobotoh bermaksud membalasnya dengan mengundang mereka datang ke Bandung saat putaran 2.

Pembicaraan kedua perwakilan suporter berlangsung lancar lantaran salah seorang Pengurus Jackmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung. Kebetulan Erwan punya usaha membuat kaos dan memesannya di Bandung. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik sangat dekat sekali. Bahkan kabarnya Erwan yang saat itu masih membujang tertarik dengan adik perempuan Ayi Beutik. Oleh sebab kedekatan keduanya itulah, maka Ayi sebagai Panglima Viking mengundang Jackmania hadir ke Bandung melalui Erwan.

Tawaran Viking ternyata disambut baik oleh Jackmania. Mereka bermaksud hadir ke Bandung ketika tejadi partai tandang antara Persib dan Persija. Lalu Jackmania membentuk kepanitiaan dan mengutus Sekretaris Umum dan Bendahara Umum Jakmania yang saat itu dijabat oleh Faisal dan Danang. Mereka berdua bertugas membahas masalah tiket hingga tribun Jackmania dengan Panpel Persib.

Setelah mendengar berita itu, para bobotoh rapat dibawah pimpinan sang Panglima Viking, Ayi Beutik. Pada saat itu para bobotoh mempertanyakan tindakan apa yang harus diambil oleh mereka ketika para Jackmania datang. Pada saat itu Ayi Beutik mengatakan agar para bobotoh memperingatkan Jackmania agar jangan macam-macam (bikin ulah). Kalau bikin ulah, pukul saja.

Kronologis seperti ini. Saat pelaksanaan, ternyata Jackmania yang datang membludak. Dalam pembicaraan semula, jumlah Jackmania yang akan hadir berjumlah 400 orang, namun kenyataannya berkembang menjadi 1000 orang. Tentu saja hal ini membuat panitia Jackmania yang belum berpengalaman mengkoordinasikan anggotanya untuk nonton tandang menjadi kewalahan. Akibatnya jam keberangkatan mereka pun sempat tertunda dan baru bisa berangkat ke Bandung jam 12 siang.

Saat itu rombongan Jackmania terpecah menjadi 3 rombongan. Bis pertama berangkat terlebih dahulu karena mau ganti ban, lalu disusul rombongan kedua berjumlah 4 bis dan rombongan terakhir juga memakai 4 bis tambahan. Panitia masih ragu apakah semua Jackmania akan mendapatkan tiket, sebab sesuai dengan kesepakatan awal, jumlah yang berhak mendapatkan tiket dan sudah disetujui Panpel Persib cuma 400 orang. Lalu bagaimana dengan sisanya ?

Bis pertama datang lebih dulu di Stadion Siliwangi. Kedatangan Jackmania disambut baik oleh Viking dan langsung mempersilahkan mereka masuk ke stadion. Padahal waktu itu mereka belum membawa tiket. Sementara itu diluar stadion, bobotoh persib yang hadir semakin banyak. Sebagian oknum bobotoh ada yang mendatangi Jackmania dengan prilaku yang kurang simpatik. Mereka malah langsung memukul anggota Jackmania yang datang. Mereka salah mengartikan perintah Panglima Viking. Suasana akhirnya menjadi kacau. Ayi sangat menyesalkan kejadian ini yang akhirnya menyeret kedua suporter ke dalam perseteruan yang berkepanjangan.

Melihat situasi yang kurang kondusif, Viking meminta agar rombongan Jackmania yang sudah terlanjur masuk ke dalam stadion untuk keluar dulu, sambil menunggu rombongan Jackmania lainnya. Mereka menuruti kemauan Viking. Namun diluar stadion terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Beberapa orang anggota Jackmania mendapat perlakuan kasar dari bobotoh Persib, yaitu dipukul menggunakan kayu. Salah seorang diantaranya sempat jatuh tersungkur berlumuran darah yang keluar dari kepalanya.

Situasi di Stadion Siliwangi saat itu semakin panas. Guna meredam situasi, rombongan Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion. Perwakilan Viking berinisiatif mengajak rombongan pertama Jackmania tersebut agar bergabung dengan rombongan lainnya yang lebih banyak jumlahnya, sambil meminta maaf terhadap kejadian tersebut. Mereka marah dan tidak bisa menerima perlakuan bobotoh Persib terhadap rekan mereka. Bahkan untuk berjabat tangan pun mereka tidak mau menerimanya.

Akibat kejadian pemukulan yang dilakukan oknum bobotoh Persib, Jackmania mengurungkan niatnya menonton pertandingan laga tandang tim kesayangannya dan bermaksud kembali ke Jakarta. Saat rombongan mereka akan keluar Stadion Siliwangi, terjadi lagi serangan yang dilakukan sebagian oknum bobotoh Persib yang berada di luar stadion. Keributan pun sempat terjadi yang menyulut api dendam yang berkepanjangan.

Sejak kejadian tersebut menimbulkan luka di hati Jackmania. Mereka tampaknya merasa dendam terhadap perlakuan anggota Viking. Ketika bobotoh ke Jakarta untuk menonton pertandingan PSSI melawan Irak, giliran bobotoh yang dipukulin Jackmania. Perselisihan pun akhirnya semakin tajam diantara kedua suporter.

Puncak kejadian berikutnya adalah aksi balas dendam yang dilakukan Jackmania terhadap Viking. Kejadiannya bermula saat ada acara “Kuis Siapa Berani” di Stasiun TV Indosiar. Saat itu kedua kubu diundang untuk mengisi acara tersebut. Pada saat acara berlangsung, sebenarnya berlangsung sukses dan tidak terjadi apa-apa. Kebetulan acara tersebut dimenangkan oleh Tim Viking.

Entah bagaimana asal muasalnya, salah seorang bobotoh Persib mengejek tim Jackmania dengan kata-kata “Jakarta Banjir” yang membuat mereka tersinggung sehingga memancing keributan.

Dalam waktu singkat banyak suporter Jackmania yang datang ke lokasi kejadian. Mereka bermaksud menyerang para bobotoh. Suasana semakin tidak terkendali yang membuat Polisi akhirnya mengungsikan rombongan Viking.

Apa yang sudah dilakukan aparat keamanan ternyata sia-sia. Ketika rombongan Viking bermaksud kembali ke Bandung, terjadilah penghadangan oleh Jackmania di pintu tol Kebun Jeruk. Perkelahian tidak seimbang tidak bisa terelakkan lagi, antara rombongan Viking yang sedikit dengan rombongan Jackmania yang berjumlah banyak. Tak ayal lagi Viking menjadi bulan-bulanan Jackmania.

Sejak kejadian tersebut nama Jackmania ikut tercoreng. Media menuding Jackmania tidak menerima kekalahan mereka sehingga menyerang Viking. Masyarakat Bandung pun ramai-ramai ikut menghujat yang membuat perseteruan semakin kental. Kedua kubu semakin menanamkan kebencian terhadap lawannya kepada anggota baru komunitas mereka. Misalnya dengan membuat kaos dan lagu yang bersifat menghujat.

Sampai sekarang permusuhan bobotoh dan Jackmania belum berakhir, bahkan justru semakin seru. Hal ini dipicu dengan adanya dukungan Bonek, sebutan suporter sepak bola asal Kota Surabaya. Tidak mau kalah, Jackmania juga bergabung dengan Aremania yang notabene adalah musuhnya Bonek. Kini semakin lengkaplah cerita kedua suporter itu dalam perseteruannya.

 

Bisnis yang Dikelola Viking Persip Club (VPC)

Sejak Ayi Beutik menjadi Panglima Viking dan Heru Djoko menjabat sebagai Ketua Umum Viking, keberadaan VPC semakin solid. Keduanya kompak dalam membangun suporter Persib yang kuat dan disegani. Mereka berdua memiliki banyak andil dan jasanya dalam membesarkan Viking. Mereka bisa saling mengisi satu sama lainnya. Disamping nama kedua dedengkot Viking tersebut, ada juga nama lain yang turut berjasa, seperti Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule dan Aris Primat.

Heru Djoko merupakan Ketua Viking yang cerdas dan cukup jeli dalam melihat peluang bisnis. Dia mengajarkan kepada para bobotoh bagaimana cara berbisnis untuk Viking. Tidak sedikit pula para pengusaha yang tertarik menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Namun Heru dan Ayi tidak serta merta langsung menyetujuinya. Mereka berdua benar-benar selektif dalam menjaring pengusaha yang akan menjadi mitra bisnisnya.

Salah satu cara yang dilakukan Heru dan pengurus lainnya dalam mencari peluang bisnis yang tepat adalah dengan melakukan riset kecil-kecilan. Mereka menyebar angket kepada para bobotoh yang isinya berupa pertanyaan seputar kebutuhan para anggotanya. Hasilnya berupa sekumpulan daftar kebutuhan bobotoh seperti kaos anggota, kemeja, syal, topi, pin dan sebagainya. Hal ini tentu membuka peluang usaha yang jelas dengan market yang jelas pula. Adanya kegiatan ini bisnis ini bisa menyebabkan masuknya income buat pribadi bobotoh yang ikut menjalankan bisnis ini maupun buat organisasi VPC itu sendiri.

Secara umum terdapat tiga jenis usaha yang saat ini dikembangkan oleh VPC, yaitu :

Viking Original Fanshop

Konsepnya persis seperti cloting pada umumnya, namun perbedaanya terdapat pada antribut-atributnya yang sangat kental berbau Persib. Barang yang dijual seperti marchandise ataupun souvenir Viking dan Persib yang resmi dekelola oleh VPC.

Usaha dibidang ini terletak di Jalan Banda, tidak jauh dari Stadion Siliwangi Bandung dan Wisma Darma Bakti, tempat menginap para emain Persib. Produk yang dijual tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan para anggota Viking, namun juga terbuka untuk umum.

Viking Recorder

Kota Bandung sudah dikenal luas memiliki banyak budayawan, seniman dan musisi ternama. VPC merasa tertantang untuk menciptakan kreativitas baru yaitu pembuatan CD Viking kompilasi persib. Dalam CD ini terdapat lagu-lagu yang sengaja dibuat oleh para musisi kota Bandung sebagai wujud kecintaannya terhadap Persib.

Pada 2002 dan 2004, VPC telah melahirkan album kompilasi yang berisi lagu-lagu bertema Persib. Lagu-lagu tersebut dimainkan oleh penyanyi dan Band ternama asal Kota Bandung, seperti Pas Band, Mocca, Serius, Kang Ibing, dan Doel Sumbang. Kontribusi mereka sangat berarti bagi kemajuan VPC dan Persib Maung Bandung.

Berdasarkan data penjualan, ternyata album Viking Kompilasi 1 sudah terjual sekitar 30.000 kopi. Bahkan konon kabarnya masih dirilis ulang dengan kemasan baru, sesuai permintaan pasar. Sedangkan album Viking Kompilasi 2, angka penjualannya mencapai 20.000 kopi. Berikutnya direncanakan Viking akan membuat album ketiga yang lebih baik dari album-album sebelumnya.

Suporter Tour Company

Usaha ini masuk dalam sektor jasa, yaitu melayani bagi siapa saja yang bermaksud menyaksikan laga Persib diluar kota dengan nyaman dan aman. VPC menyediakan pelayanan pembelian tiket, sarana akomodasi dan transportasi yang diberi nama Viking Suporter Tour Company. Jenis usaha ini hampir sama dengan bisnis Tour dan Travel yang dikelola oleh sarjana lulusan akademi perhotelan.

Anggota Viking yang ikut dalam rombongan Suporter Tour Company, selain menonton laga Persib, juga diajak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata yang terdapat di daerah tersebut.

 

Kembalinya “Panglima Viking” ke Pangkuan-Nya

Nasib, umur dan jodoh, kata orang semuanya ada ditangan Tuhan. Siapa sangka kalau kepergian Ayi Beutik, Sang Panglima Viking dari Timur dirasakan begitu cepat. Ternyata Allah SWT sudah menetapkan takdirNya agar Bapak para bobotoh Persib ini kembali ke PangkuanNya. Tepat pada Sabtu (9/8/2014) sekitar pukul 13.00 WIB, Ayi Beutik menutup mata selama-lamanya di Rumah Sakit Advent Bandung.

Kepergian Ayi menghadap Sang Khalik bermula saat dirinya mengalami kecelakaan tunggal di daerah Dago pada Kamis, 24 Juli 2014 yang lalu. Saat itu sepeda motor yang dikendarainya terjatuh yang menyebabkan dirinya sempat tidak sadarkan diri dan harus dirawat secara itensif di Rumah Sakit Advent, Jalan Cihampelas, Kota Bandung. Ayi meninggal setelah sebelumnya sempat di operasi dua kali karena mengalami penipisan bantalan tulang punggung.

Sejak kepergian Ayi yang meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarganya, ribuan ucapan belangsungkawa berdatangan, termasuk diantaranya dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Para pemain Persib, Official Persib dan para tokoh masyarkat lainnya.

Almarhum Ayi Beutik sempat disemayamkan di rumah duka yang terletak di kawasan Kompleks Griya Bandung Asri Amerta. Akhirnya Panglima Viking dari Timur ini dikebumikan di pemakaman keluarga di daerah Banjaran, Kabupaten Bandung. Selamat jalan Mang Ayi, semua bobotoh kehilanganmu.

 

Pandangan Terhadap Kepergian Panglima Viking

1. General Coordinator Panpel Persib, Budi Bram, saat diwawancara oleh PRFM, Sabtu (9/8/2014) : “Beliau tak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan jabatan dan kedudukan. Bagi mang Ayi semua orang sama saja dan dia selalu menganggap teman pada siapapun”.

Menurut Budi, Mang Ayi (panggilan akrab Ayi Beutik) merupakan orang yang egaliter. Terbukti selama masa perawatan di Rumah Sakit sampai ajalnya dijemput, orang yang membesuknya datang silih berganti.

“Mang Ayi bukan hanya milik Bobotoh, Viking, tetapi milik seluruh kalangan. Disamping itu, sifat Mang Ayi yang tulus dan total mendukung Persib tak dapat dilukiskan,” katanya dengan haru.

Budi yang sudah menganggap Ayi bagai saudaranya sendiri itu menambahkan, “Pribadinya yang unik dan luar biasa membuat mang Ayi amat dikenang dan membekas dalam ingatan. Konsistensi juga konsekuen terhadap pilihan tentu membuat kagum saya beserta teman-teman”.

2. Heru Djoko, Ketua Umum Viking saat diwawancari http://Okezone.com mengatakan bahwa Ayi Beutik dimatanya dikenal sebagai sosok yang idealis dan mempunyai tempat tersendiri di hati para bobotoh.

3. Tatan, Striker Persib yang juga mantan pemain Persikab Kabupaten Bandung, seperti dikutip dari situs http://goal.com menilai dedikasi Ayi Beutik kepada klub Maung Bandung itu selama ini tak ternilai.

“Peran Bobotoh seperti Ayi Beutik cukup memengaruhi pemain, karena tanpa suporter, ibarat sayur tanpa garam, buat motivasi,” katanya menambahkan.

4. Manajer Persib, Umuh Muhtar, seperti dilansir dalam situs http://tempo.co (Sabtu, 9/8/2014) mengatakan, “Ayi sosok yang berani, bisa dipercaya, dan tulus. Dia tidak hitungan menyediakan waktu. Kami sangat kehilangan dan berduka.”

5. Kapten Tim Persib, Atep, dalam liputan Http://berisatu.com (Sabtu, 9/8/2014) menyatakan kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dari dinamika suporter tim Persib itu. Dia mengatakan, “Ia sosok bobotoh sejati dengan komitmen kuat bagi Persib, kami sangat kehilangan”.

Sementara itu dalam situs http://simomot.com, Kaptem Tim Persib tersebut menambahkan, “Yang pasti beliau berani, tegas dalam memimpin, dan nyentrik. Saya mengenal Mang Ayi cukup lama sekali. Ketika Mang Ayi berada di pinggir lapangan, (pemain) selalu merasa tenang, (Ayi) selalu membakar semangat (pemain)”.

6. Istri Ayi Beutik, Mia Dasmawati berpendapat kalau almarhum suaminya dikenalnya sebagai sosok kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan memiliki sifat humoris. Bahkan pada Jumat (8/8/2014) malam, pasangan hidupnya itu sempat bercanda dengannya meski dalam keadaan tergolek lemas.

“Semalam masih ingat, masih sempat bercanda sama saya,” ucap Mia kepada http://Okezone.com.

Menurut Mia, sebelum meninggal dunia, Ayi bermaksud ingin bertemu dengan pemain Persib. Sayangnya keinginan itu terwujud setelah Panglima Viking tersebut terbujur kaku.

7. Dirijen Viking, Yana Umar, merasa sangat kehilangan sosok yang selama ini melindunginya, seperti ditulis dalam situs http://simomot.com. Kepergian Ayi jelas cepat dan membuatnya sedih. Apalagi Ayi adalah sahabatnya sejak kecil dan hubungannya begitu dekat, layaknya bersaudara.

“Dari kecil satu RT, teman main dari kecil. Mang Ayi sudah seperti kakak bagi saya. Walaupun dia suka bercanda, tapi suka memberikan motivasi,” ungkap Yana dengan nada sedih.

8. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), yang ikut melayat ke rumah duka di kawasan Pasirluyu, Kota Bandung, Sabtu (9/8/2014) petang, mengaku sudah cukup lama mengenal sosok Ayi yaitu sejak 2008. Ia pun cukup mengenal Ayi dan menganggapnya sebagai sahabat.

“Saya memandang beliau lebih seorang sahabat, saya pernah ke rumahnya, ke kampung halamannya,” ujar Aher.

Aher menilai sosok Ayi Beutik termasuk orang yang sangat konsisten, terutama dalam mendedikasikan seluruh hidupnya untuk tim kesayangannya, Persib Bandung. Berkat tindakannya, Persib semakin dicintai masyarakat. Dia mengenal Ayi sebagai sosok pemersatu beberapa kelompok bobotoh yang sebelumnya memiliki berbagai kelompok bobotoh dan sering saling bersinggungan.
Penulis: Jumari Haryadi Kohar (kompasiana.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

/*dink google analytic*/ /*dink google analytic*/